
Buddha
Guru yang mengingatkan para bhikkhu agar menjadi pewaris Dhamma, bukan pewaris benda, makanan, pujian, atau keuntungan.
Khotbah tentang Pewaris Dhamma
Dhammadāyāda Sutta menekankan warisan sejati dari Buddha: bukan keuntungan materi, melainkan latihan Dhamma, kesederhanaan, dan pelepasan.

Guru yang mengingatkan para bhikkhu agar menjadi pewaris Dhamma, bukan pewaris benda, makanan, pujian, atau keuntungan.

Murīd utama yang bijaksana, menerangkan lebih lanjut bagaimana para siswa melatih keterasingan, kehati-hatian, dan meninggalkan kemunduran.

Wihara di Sāvatthī yang menjadi latar ajaran ini, tempat para bhikkhu mendengarkan wejangan tentang warisan Dhamma.

Inti sutta: menerima ajaran berarti menjalani jalan pelepasan dan kebijaksanaan, bukan mengejar kenyamanan, makanan, atau ketenaran.
Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah yang kudengar:
ekaṁ samayaṁ bhagavā sāvatthiyaṁ viharati jetavane anāthapiṇḍikassa ārāme.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī, di Hutan Jeta, taman Anāthapiṇḍika.
Tatra kho bhagavā bhikkhū āmantesi:
Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
“bhikkhavo”ti.
“Para bhikkhu,”
“Bhadante”ti te bhikkhū bhagavato paccassosuṁ.
“Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu itu menjawab kepada Bhagavā.
Bhagavā etadavoca:
Sang Bhagavā berkata demikian:
Terjemahan Indonesia dibuat dengan bantuan AI oleh Bunbun.