‹
MN 3

Dhammadāyādasutta

Khotbah tentang Pewaris Dhamma

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 3

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Dhammadāyāda Sutta menekankan warisan sejati dari Buddha: bukan keuntungan materi, melainkan latihan Dhamma, kesederhanaan, dan pelepasan.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang mengingatkan para bhikkhu agar menjadi pewaris Dhamma, bukan pewaris benda, makanan, pujian, atau keuntungan.

Potret Sāriputta
TOKOH

Sāriputta

Murīd utama yang bijaksana, menerangkan lebih lanjut bagaimana para siswa melatih keterasingan, kehati-hatian, dan meninggalkan kemunduran.

Jetavana di Sāvatthī
TEMPAT

Jetavana

Wihara di Sāvatthī yang menjadi latar ajaran ini, tempat para bhikkhu mendengarkan wejangan tentang warisan Dhamma.

Warisan Dhamma dibandingkan dengan warisan materi
KONSEP

Pewaris Dhamma, bukan materi

Inti sutta: menerima ajaran berarti menjalani jalan pelepasan dan kebijaksanaan, bukan mengejar kenyamanan, makanan, atau ketenaran.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha menasihati para bhikkhu agar menjadi pewaris Dhamma, bukan sekadar pewaris keuntungan materi yang datang karena kedudukan Sang Guru. Setelah Buddha mengundurkan diri, Sāriputta melanjutkan pembicaraan dan menjelaskan apa artinya mengikuti teladan itu dalam kehidupan seorang bhikkhu. Ia membandingkan murid yang tetap larut dalam kenyamanan dengan murid yang sungguh menjalani penyepian dan latihan, lalu menutup uraian dengan jalan latihan yang mengikis keserakahan, kebencian dan berbagai keadaan batin yang tidak bermanfaat.

mn3:7.1 Dan bagaimanakah, sahabat, para siswa dari seorang Guru yang berdiam dalam keterasingan melatih diri dalam keterasingan?

mn3:7.2 Di sini, sahabat, para siswa dari seorang Guru yang berdiam dalam keterasingan melatih diri dalam keterasingan—

mn3:7.3 hal-hal yang Guru katakan untuk ditinggalkan, hal-hal itu mereka tinggalkan;

mn3:7.4 dan mereka tidak bersikap manja, tidak lengah, tidak mundur ke belakang, tidak mengabaikan keterasingan, melainkan memimpin di dalamnya.

mn3:7.5 Dalam hal ini, sahabat, para bhikkhu senior layak dipuji karena tiga hal.

mn3:7.6 ‘Sang Guru yang berdiam dalam keterasingan, para siswa melatih diri dalam keterasingan’—

mn3:7.7 dengan landasan pertama ini, para bhikkhu senior patut dipuji.

mn3:7.8 ‘Mereka meninggalkan hal-hal yang Sang Guru katakan untuk ditinggalkan’—

mn3:7.9 dengan landasan kedua ini, para bhikkhu senior patut dipuji.

mn3:7.10 ‘Mereka tidak suka bersenang-senang, tidak lengah, tidak mundur dalam pelaksanaan, dan mengutamakan keterasingan’—

mn3:7.11 dengan landasan ketiga ini, para bhikkhu senior patut dipuji.

mn3:7.12 Para bhikkhu senior, teman-teman, patut dipuji karena tiga landasan ini.

mn3:7.13 Dalam hal ini, teman-teman, para bhikkhu menengah …

mn3:7.14 dan para bhikkhu baru patut dipuji karena tiga landasan yang sama.

mn3:7.15 ‘Sang Guru yang berdiam dalam keterasingan, para siswa melatih diri dalam keterasingan’—

mn3:7.16 Dengan alasan pertama ini, para bhikkhu baru menjadi terpuji.

mn3:7.17 'Dan ajaran-ajaran yang oleh Sang Guru dinyatakan untuk ditinggalkan, ajaran-ajaran itu mereka tinggalkan'—

mn3:7.18 dengan alasan kedua ini, para bhikkhu baru menjadi terpuji.

mn3:7.19 'Mereka tidak suka pada banyaknya kegiatan, tidak lengah, meletakkan beban dalam hal meninggalkan, dan mendahulukan keterasingan'—

mn3:7.20 dengan alasan ketiga ini, para bhikkhu baru menjadi terpuji.

mn3:7.21 Para bhikkhu baru, teman-teman, menjadi terpuji karena ketiga alasan ini.

mn3:7.22 Demikianlah, teman-teman, ketika Sang Guru berdiam dalam keterasingan, para siswa berlatih dalam keterasingan.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.