“Misalnya, Aggivessana, ada seseorang yang membutuhkan inti kayu. Mencari inti kayu, mengembara mencari inti kayu, ia membawa kapak tajam dan masuk ke hutan.
Demikian pula, Aggivessana, ketika engkau ditanya, diperiksa, dan didesak olehKu mengenai doktrinmu sendiri, engkau ternyata kosong, hampa, dan keliru.
‘nāhaṁ taṁ passāmi samaṇaṁ vā brāhmaṇaṁ vā, saṅghiṁ gaṇiṁ gaṇācariyaṁ, api arahantaṁ sammāsambuddhaṁ paṭijānamānaṁ, yo mayā vādena vādaṁ samāraddho na saṅkampeyya na sampakampeyya na sampavedheyya, yassa na kacchehi sedā mucceyyuṁ.
‘Aku tidak melihat petapa atau brahmana mana pun—pemimpin kelompok, pemimpin komunitas, atau guru komunitas, bahkan seorang yang mengaku sebagai Arahant, Buddha yang tercerahkan sempurna—yang, ketika berdebat denganKu, tidak akan goyah, tidak akan gemetar, tidak akan bergetar, dan yang ketiaknya tidak mengeluarkan keringat.