
Buddha
Guru yang menjelaskan perumpamaan jejak kaki gajah kepada brahmana Jāṇussoṇi.
Perumpamaan Jejak Kaki Gajah yang Lebih Pendek
Terkesan oleh pujian pengembara Pilotika terhadap Buddha, brahmana Jāṇussoṇi menemui Buddha sendiri, yang lalu menjelaskan perumpamaan jejak kaki gajah untuk menggambarkan keyakinan yang belum dan sudah teruji sepenuhnya.

Guru yang menjelaskan perumpamaan jejak kaki gajah kepada brahmana Jāṇussoṇi.

Brahmana yang terkesan oleh pujian pengembara Pilotika terhadap Buddha, lalu menemui Buddha sendiri untuk mendengar penjelasannya.

Wihara di Sāvatthī, tempat Jāṇussoṇi akhirnya menemui Buddha.
Seperti jejak kaki gajah yang besar belum tentu berasal dari gajah terbesar sebelum dilihat langsung, keyakinan pada Buddha juga perlu diuji secara bertahap, bukan sekadar dari kesan awal.
Brahmana Jāṇussoṇi bertanya kepada pengembara Pilotika tentang Buddha. Pilotika menjawab dengan perumpamaan jejak kaki gajah: dari jejak yang besar seseorang menduga ada gajah besar, tetapi kepastian baru diperoleh setelah melihat hewan itu sendiri. Ketika kisah percakapan tersebut disampaikan kepada Buddha, Buddha memperluas perumpamaan itu. Ia menggambarkan bagaimana seseorang mendengar tentang Tathāgata, memperoleh keyakinan, meninggalkan kehidupan rumah tangga, melatih sila dan penjagaan indra, mengatasi rintangan, memasuki jhāna, lalu memperoleh pengetahuan langsung. Hanya setelah pengalaman pembebasan itulah ‘jejak gajah’ menjadi lengkap dan keyakinan terhadap Buddha tidak lagi sekadar berdasarkan kesan dari luar.
mn27:10.1 “Misalnya, brahmana, seorang pelacak gajah jantan memasuki hutan gajah jantan.
mn27:10.2 Di sana mereka akan melihat jejak kaki gajah yang besar, panjang dan lebar.
mn27:10.3 Seorang pelacak gajah yang terampil belum sampai pada kesimpulan,
mn27:10.4 ‘Ini pasti gajah jantan yang besar.’
mn27:10.5 Mengapa demikian?
mn27:10.6 Karena, brahmana, di dalam hutan gajah terdapat gajah betina kerdil bernama vāmanikā yang memiliki jejak kaki besar, dan jejak ini mungkin milik salah satu dari mereka.
mn27:10.7 Ia terus mengikuti jejak itu.
mn27:10.8 Sambil mengikuti jejak itu, ia melihat jejak kaki gajah yang besar di hutan gajah, panjang dan lebar, serta bekas yang tinggi.
mn27:10.9 Seorang pelacak gajah yang terampil belum sampai pada kesimpulan:
mn27:10.10 ‘Sungguh, ini pasti seekor gajah besar.’
mn27:10.11 Mengapa demikian?
mn27:10.12 Karena, Brahmana, di dalam hutan gajah terdapat gajah betina yang tinggi dan agung bernama Kāḷārikā dengan jejak kaki yang besar, dan jejak ini mungkin milik salah satu dari mereka.
mn27:10.13 Maka ia mengikuti jejak itu.
mn27:10.14 Sambil mengikuti jejak itu, ia melihat di dalam hutan gajah sebuah jejak kaki gajah yang besar, panjang dan lebar, serta bekas-bekas dan goresan taring yang tinggi.
mn27:10.15 Seorang pelacak gajah jantan yang terampil belum sampai pada kesimpulan,
mn27:10.16 ‘Ini pasti gajah jantan besar.’
mn27:10.17 Mengapa demikian?
mn27:10.18 Karena, brahmana, di hutan gajah terdapat gajah betina pemimpin yang tinggi bernama kaṇerukā dengan jejak kaki yang besar, dan jejak ini mungkin milik salah satu dari mereka.
mn27:10.19 Ia mengikutinya.
mn27:10.20 Mereka terus mengikuti jejak itu hingga melihat jejak kaki gajah besar, panjang dan lebar, serta bekas-bekas gading dan patahan dahan-dahan yang tinggi.
mn27:10.21 Dan mereka melihat gajah jantan itu, baik sedang berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring, di bawah pohon atau di tempat terbuka.
mn27:10.22 Maka mereka sampai pada kesimpulan:
mn27:10.23 'Inilah gajah jantan besar itu.'
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.