
Buddha
Guru yang menceritakan kembali pencarian mulianya sebelum tercerahkan.
Pencarian Mulia
Diminta oleh Ānanda untuk menceritakan kembali, Buddha menuturkan Pāsarāsi Sutta: pencarian mulia yang ditempuhnya sebelum tercerahkan — dari berguru pada Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta hingga akhirnya memutuskan mengajar Dhamma.

Guru yang menceritakan kembali pencarian mulianya sebelum tercerahkan.

Murid setia yang mengarahkan para bhikkhu ke pertapaan Rammaka agar dapat mendengar khotbah Buddha, yang kemudian menceritakan pencarian mulianya.
Tempat Buddha menceritakan kembali perjalanan pencarian mulianya sebelum tercerahkan, atas permintaan para bhikkhu.
Mengejar sesuatu yang masih tunduk pada kelahiran, usia tua, dan kematian adalah pencarian tidak mulia; mencari yang bebas dari semua itu — Nibbāna — adalah pencarian mulia.
Ketika para bhikkhu bertanya tentang pencarian yang mulia, Buddha menceritakan perjalanan hidupnya sendiri sebelum pencerahan. Ia menyadari bahwa sebagai orang yang masih tunduk pada kelahiran, penuaan, sakit dan kematian, tidak masuk akal bila ia terus mencari hal-hal yang juga tunduk pada nasib yang sama. Ia meninggalkan kehidupan rumah tangga, belajar kepada Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta, menguasai pencapaian yang mereka ajarkan, tetapi melihat bahwa semuanya belum membawa pada akhir penderitaan. Ia kemudian berjuang sendiri hingga menemukan Nibbāna. Setelah sempat ragu apakah Dhamma yang dalam itu dapat dipahami orang lain, Buddha memutuskan mengajar dan pergi menemui lima pertapa, yang akhirnya menjadi murid pertama yang menerima jalan pembebasan.
mn26:19.1 Then it occurred to me,
mn26:19.2 ‘This principle I have discovered is deep, hard to see, hard to understand, peaceful, sublime, beyond the scope of logic, subtle, comprehensible to the astute.
mn26:19.3 But people like clinging, they love it and enjoy it.
mn26:19.4 It’s hard for them to see this topic; that is, specific conditionality, dependent origination.
mn26:19.5 It’s also hard for them to see this topic; that is, the stilling of all activities, the letting go of all attachments, the ending of craving, fading away, cessation, extinguishment.
mn26:19.6 And if I were to teach this principle, others might not understand me, which would be wearying and troublesome for me.’
mn26:19.7 And then these verses, which were neither supernaturally inspired, nor learned before in the past, occurred to me:
mn26:19.8 ‘I’ve struggled hard to realize this,
mn26:19.9 there’s no need to reveal it now!
mn26:19.10 Those mired in greed and hate
mn26:19.11 can’t really understand this teaching.
mn26:19.12 It goes against the stream, subtle,
mn26:19.13 deep, obscure, and very fine.
mn26:19.14 Those besotted by greed cannot see,
mn26:19.15 for they’re cloaked in a mass of darkness.’
mn26:19.16 So, as I reflected like this, my mind inclined to remaining passive, not to teaching the Dhamma.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.