
Buddha
Guru yang mengajarkan perumpamaan gergaji tentang kesabaran tanpa batas.
Kakacūpamasutta — Perumpamaan Gergaji
Setelah Bhikkhu Phagguna dikritik karena terlalu dekat dengan para bhikkhunī, Buddha mengajarkan Kakacūpama Sutta: perumpamaan gergaji tentang menjaga batin tanpa kebencian meski disakiti seburuk apa pun.

Guru yang mengajarkan perumpamaan gergaji tentang kesabaran tanpa batas.
Bhikkhu yang dikritik karena terlalu dekat dengan para bhikkhunī, menjadi pemicu ajaran tentang kesabaran ini.

Wihara di Sāvatthī, tempat Buddha menyampaikan ajaran ini kepada para bhikkhu.
Meski digergaji anggota tubuhnya oleh penyamun sekalipun, batin harus tetap tanpa kebencian — itulah nasihat Buddha untuk melatih kesabaran tanpa batas.
Buddha mengangkat kisah seorang perempuan bernama Vedehikā yang terkenal lembut dan tenang. Reputasi itu diuji oleh pelayannya, Kāḷī, yang sengaja bangun semakin siang untuk mengetahui apakah majikannya benar-benar bebas dari kemarahan. Ketika kesabaran Vedehikā akhirnya pecah, Buddha memakai kisah tersebut untuk menunjukkan bahwa kelembutan seseorang baru sungguh teruji ketika menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan. Nasihat kemudian berkembang melalui beberapa perumpamaan—tanah yang hendak digali habis, ruang yang hendak dilukis, Sungai Gangga yang hendak dibakar—hingga perumpamaan gergaji: bahkan bila disakiti secara kejam, seorang murid dilatih menjaga batin tanpa kebencian.
mn21:21.1 If you frequently reflect on this advice on the simile of the saw,
mn21:21.2 do you see any criticism, large or small, that you could not endure?”
mn21:21.3 “No, sir.”
mn21:21.4 “So, mendicants, you should frequently reflect on this advice on the simile of the saw.
mn21:21.5 This will be for your lasting welfare and happiness.”
mn21:21.6 That is what the Buddha said.
mn21:21.7 Satisfied, the mendicants approved what the Buddha said.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.