
Buddha
Sāriputta menjadi contoh murid yang menjaga batin, sementara Buddha menuntun pemeriksaan yang lebih halus.
Khotbah tentang Kesucian Makanan yang Diterima

Piṇḍapātapārisuddhi Sutta membahas kemurnian dalam menerima dan menggunakan makanan dana.

Sāriputta menjadi contoh murid yang menjaga batin, sementara Buddha menuntun pemeriksaan yang lebih halus.

Sāriputta menjadi contoh murid yang menjaga batin, sementara Buddha menuntun pemeriksaan yang lebih halus.
Latar sutta berada di sekitar Sāvatthī.
Bahkan makan dan menerima dana dapat menjadi latihan bila dilakukan dengan pemeriksaan batin.
Sāriputta kembali dari menerima dana makanan dan menemui Buddha. Sang Guru mengajaknya menjadikan kegiatan sehari-hari itu sebagai kesempatan memeriksa batin: apakah melalui apa yang dilihat, didengar, dicium, dirasa, disentuh atau dipikirkan masih muncul keserakahan, kebencian atau kebodohan. Bila kualitas buruk masih ada, ia berusaha meninggalkannya; bila tidak ada, ia tetap berlatih dengan kewaspadaan. Pemeriksaan diperluas pada lima kelompok kemelekatan, faktor-faktor pencerahan dan tugas terhadap Empat Kebenaran Mulia. Menerima makanan dengan demikian menjadi titik awal audit yang jujur atas seberapa jauh latihan telah berkembang.
mn151:2.1 “Vippasannāni kho te, sāriputta, indriyāni, parisuddho chavivaṇṇo pariyodāto.
mn151:2.2 Katamena kho tvaṁ, sāriputta, vihārena etarahi bahulaṁ viharasī”ti?
mn151:2.3 “Suññatāvihārena kho ahaṁ, bhante, etarahi bahulaṁ viharāmī”ti.
mn151:2.4 “Sādhu sādhu, sāriputta.
mn151:2.5 Mahāpurisavihārena kira tvaṁ, sāriputta, etarahi bahulaṁ viharasi.
mn151:2.6 Mahāpurisavihāro eso, sāriputta, yadidaṁ—
mn151:2.7 suññatā.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.