
Buddha
Buddha menasihati para bhikkhu agar ajaran dan perilaku mereka tidak menimbulkan pertengkaran.
Khotbah tentang Analisis Tanpa Pertikaian

Araṇavibhaṅga Sutta mengajarkan cara hidup dan berbicara tanpa konflik.

Buddha menasihati para bhikkhu agar ajaran dan perilaku mereka tidak menimbulkan pertengkaran.
Buddha menasihati para bhikkhu agar ajaran dan perilaku mereka tidak menimbulkan pertengkaran.
Latar sutta berada di lingkungan komunitas latihan.
Kebenaran perlu disampaikan dengan ucapan yang tepat dan tidak memecah.
Buddha mengajarkan cara menjalani dan menyampaikan Dhamma tanpa menciptakan konflik. Ia menolak dua ekstrem kenikmatan indria dan penyiksaan diri, lalu membahas bagaimana pujian, kritik dan pengajaran dapat disampaikan tanpa diam-diam meninggikan diri atau menyerang orang lain. Bahkan istilah dan bahasa setempat tidak perlu dijadikan sumber pertengkaran; maksud dapat disampaikan tanpa bersikeras bahwa hanya satu sebutan yang benar. Uraian itu menjadikan kedamaian bukan sikap pasif, melainkan kecakapan berbicara dan bertindak tegas tanpa menambah permusuhan.
mn139:9.1 ‘Know how to evaluate different kinds of pleasure.
mn139:9.2 Knowing this, pursue inner pleasure.’
mn139:9.3 That’s what I said, but why did I say it?
mn139:9.4 There are these five kinds of sensual stimulation.
mn139:9.5 What five?
mn139:9.6 Sights known by the eye, which are likable, desirable, agreeable, pleasant, sensual, and arousing.
mn139:9.7 Sounds known by the ear …
mn139:9.8 Smells known by the nose …
mn139:9.9 Tastes known by the tongue …
mn139:9.10 Touches known by the body, which are likable, desirable, agreeable, pleasant, sensual, and arousing.
mn139:9.11 These are the five kinds of sensual stimulation.
mn139:9.12 The pleasure and happiness that arise from these five kinds of sensual stimulation is called sensual pleasure—a filthy, common, ignoble pleasure.
mn139:9.13 Such pleasure should not be cultivated or developed, but should be feared, I say.
mn139:9.14 Now, take a mendicant who, quite secluded from sensual pleasures, secluded from unskillful qualities, enters and remains in the first absorption, which has the rapture and bliss born of seclusion, while placing the mind and keeping it connected.
mn139:9.15 As the placing of the mind and keeping it connected are stilled, they enter and remain in the second absorption …
mn139:9.16 third absorption …
mn139:9.17 fourth absorption.
mn139:9.18 This is called the pleasure of renunciation, the pleasure of seclusion, the pleasure of peace, the pleasure of awakening.
mn139:9.19 Such pleasure should be cultivated and developed, and should not be feared, I say.
mn139:9.20 ‘Know how to evaluate different kinds of pleasure.
mn139:9.21 Knowing this, pursue inner pleasure.’
mn139:9.22 That’s what I said, and this is why I said it.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.