
Buddha
Buddha mengajar para bhikkhu agar melihat konsekuensi moral dengan jelas dan tidak meremehkan akibat perbuatan.
Khotbah tentang Orang Bodoh dan Orang Bijaksana

Bālapaṇḍita Sutta membandingkan orang bodoh dan orang bijaksana. Dengan gambaran yang kuat, sutta ini mengingatkan bahwa pilihan hidup membentuk arah penderitaan atau kebahagiaan.

Buddha mengajar para bhikkhu agar melihat konsekuensi moral dengan jelas dan tidak meremehkan akibat perbuatan.
Buddha mengajar para bhikkhu agar melihat konsekuensi moral dengan jelas dan tidak meremehkan akibat perbuatan.
Latar pembabaran berada di Sāvatthī, tempat banyak ajaran tentang kamma dan latihan moral disampaikan.
Kebodohan membawa penderitaan karena salah melihat akibat, sedangkan kebijaksanaan memilih jalan yang membawa keselamatan.
Taṁ kiṁ maññatha, bhikkhave,
Para bhikkhu, bagaimana menurut kalian?
api nu kho rājā cakkavattī imehi sattahi ratanehi samannāgato imāhi catūhi ca iddhīhi tatonidānaṁ sukhaṁ somanassaṁ paṭisaṁvediyethā”ti?
Apakah seorang raja pemutar roda yang memiliki tujuh permata dan empat kekuatan batin ini akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan karena hal-hal tersebut?”
“Ekamekenapi, bhante, ratanena samannāgato rājā cakkavattī tatonidānaṁ sukhaṁ somanassaṁ paṭisaṁvediyetha, ko pana vādo sattahi ratanehi catūhi ca iddhīhī”ti?
“Yang Mulia, seorang raja pemutar roda yang memiliki bahkan satu pun dari permata-permata ini akan merasakan kebahagiaan dan kegembiraan karenanya, apalagi memiliki ketujuh permata dan empat keberhasilan itu!”
Terjemahan Indonesia dibuat dengan bantuan AI oleh Bunbun.