
Buddha
Buddha mengajar para bhikkhu agar melihat konsekuensi moral dengan jelas dan tidak meremehkan akibat perbuatan.
Khotbah tentang Orang Bodoh dan Orang Bijaksana

Bālapaṇḍita Sutta membandingkan orang bodoh dan orang bijaksana. Dengan gambaran yang kuat, sutta ini mengingatkan bahwa pilihan hidup membentuk arah penderitaan atau kebahagiaan.

Buddha mengajar para bhikkhu agar melihat konsekuensi moral dengan jelas dan tidak meremehkan akibat perbuatan.
Buddha mengajar para bhikkhu agar melihat konsekuensi moral dengan jelas dan tidak meremehkan akibat perbuatan.
Latar pembabaran berada di Sāvatthī, tempat banyak ajaran tentang kamma dan latihan moral disampaikan.
Kebodohan membawa penderitaan karena salah melihat akibat, sedangkan kebijaksanaan memilih jalan yang membawa keselamatan.
Buddha membandingkan orang bodoh dan orang bijaksana melalui pikiran, ucapan dan tindakan mereka. Orang bodoh sudah menuai tekanan dalam kehidupan sekarang melalui ketakutan, hukuman dan penyesalan, lalu menghadapi akibat yang lebih berat setelah kematian; Buddha menggambarkan keadaan sengsara dengan perumpamaan yang keras untuk menekankan seriusnya perbuatan buruk. Orang bijaksana menjalani arah sebaliknya dan memperoleh ketenangan serta tujuan yang baik. Bahkan kemegahan seorang raja pemutar roda dipakai hanya sebagai pembanding untuk menunjukkan betapa besar buah dari kehidupan yang diarahkan dengan kebijaksanaan.
mn129:8.1 “Mungkin saja, para bhikkhu,” kata Sang Bhagavā.
mn129:8.2 “Misalkan, para bhikkhu, mereka menangkap seorang pencuri yang melakukan kejahatan dan membawanya menghadap raja, sambil berkata:
mn129:8.3 ‘Yang Mulia, ini adalah seorang penjahat, seorang pelaku kejahatan. Jatuhkanlah hukuman apa pun yang Tuanku kehendaki.’
mn129:8.4 Sang raja akan berkata,
mn129:8.5 ‘Pergilah, hai para hamba, dan hantamlah orang ini pada pagi hari dengan seratus tombak!’
mn129:8.6 Maka para hamba raja pun menghantamnya pada pagi hari dengan seratus tombak.
mn129:8.7 Kemudian pada tengah hari sang raja akan berkata,
mn129:8.8 ‘Hai, bagaimana keadaan orang itu?’
mn129:8.9 ‘Masih hidup, Yang Mulia.’
mn129:8.10 Sang raja akan berkata,
mn129:8.11 ‘Pergilah, hai para hamba, dan hantamlah orang itu pada tengah hari dengan seratus tombak!’
mn129:8.12 Maka para hamba raja pun menghantamnya pada tengah hari dengan seratus tombak.
mn129:8.13 Kemudian pada sore hari raja akan berkata,
mn129:8.14 ‘Hai, bagaimana keadaan orang itu?’
mn129:8.15 ‘Ia masih hidup, Baginda.’
mn129:8.16 Raja akan berkata,
mn129:8.17 ‘Pergilah, hai para pengawal, dan tikamlah orang itu pada sore hari dengan seratus tombak!’
mn129:8.18 Para pengawal raja melakukan apa yang diperintahkan.
mn129:8.19 Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu?
mn129:8.20 Apakah orang itu, ketika ditusuk dengan tiga ratus tombak, akan merasakan sakit dan penderitaan batin yang timbul dari hal itu?”
mn129:8.21 “Yang Mulia, bahkan jika ditusuk dengan satu tombak saja, orang itu akan merasakan sakit dan penderitaan batin yang timbul dari hal itu, apalagi dengan tiga ratus tombak!”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.