mn129:5.1 Selanjutnya, para bhikkhu, ketika orang bodoh sedang duduk di kursi, atau berbaring di tempat tidur, atau berbaring di tanah, maka perbuatan-perbuatan jahatnya yang dilakukan di masa lampau—perilaku buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran—akan membebaninya, menimpanya, dan menghimpitnya pada saat itu.
mn129:5.2 Bagaikan, para bhikkhu, bayangan puncak-puncak gunung yang besar pada waktu senja membebani, menimpa, dan menghimpit bumi;
mn129:5.3 demikian pula, para bhikkhu, ketika orang bodoh sedang duduk di kursi, atau berbaring di tempat tidur, atau berbaring di tanah, maka perbuatan-perbuatan jahatnya yang dilakukan di masa lampau—perilaku buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran—akan membebaninya, menimpanya, dan menghimpitnya pada saat itu.
mn129:5.4 Maka, para bhikkhu, si bodoh itu berpikir:
mn129:5.5 ‘Aduh, aku tidak melakukan hal baik, tidak melakukan hal bermanfaat, tidak melakukan hal yang memberikan perlindungan;
mn129:5.6 aku telah melakukan kejahatan, melakukan kekejaman, melakukan pelanggaran.
mn129:5.7 Sesungguhnya, ke mana pun perginya mereka yang tidak melakukan hal baik, tidak melakukan hal bermanfaat, tidak melakukan hal yang memberikan perlindungan, yang telah melakukan kejahatan, kekejaman, dan pelanggaran, ke sanalah aku akan pergi setelah kematian.’
mn129:5.8 Ia bersedih, merana, meratap, menangis memukuli dada, dan jatuh dalam kebingungan.
mn129:5.9 Ini, para bhikkhu, adalah penderitaan dan kesedihan ketiga yang dirasakan oleh orang bodoh dalam kehidupan ini juga.