
Buddha
Ānanda bertanya dan menerima penjelasan langsung dari Buddha tentang praktik kekosongan.
Cūḷasuññatasutta

Cūḷasuññata Sutta membahas kekosongan sebagai cara melihat pengalaman dengan lebih lapang. Ajaran ini membantu pembaca memahami bagaimana batin dapat bebas dari keramaian batin yang tidak perlu.

Ānanda bertanya dan menerima penjelasan langsung dari Buddha tentang praktik kekosongan.

Ānanda bertanya dan menerima penjelasan langsung dari Buddha tentang praktik kekosongan.
Latar sutta berada di Pubbārāma, salah satu tempat penting pembabaran Dhamma di Sāvatthī.
Kekosongan bukan kehampaan dingin, melainkan cara melihat yang membebaskan batin dari beban yang tidak perlu.
Ānanda mengingat bahwa Buddha sering berdiam dalam kekosongan dan meminta penjelasan. Buddha lalu menunjukkan latihan yang bergerak bertahap: tidak memperhatikan persepsi desa dan manusia, lalu berdiam pada hutan; dari sana perhatian dimurnikan menuju persepsi tanah, ruang tanpa batas, kesadaran tanpa batas, ketiadaan, bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, hingga konsentrasi tanpa tanda. Pada setiap tahap praktisi melihat dengan jujur gangguan apa yang sudah tidak hadir dan apa yang masih tersisa. Uraian berakhir ketika bahkan gangguan yang paling halus ditinggalkan dan pembebasan diketahui secara langsung.
mn121:10.1 Furthermore, a mendicant—ignoring the perception of the dimension of nothingness and the perception of the dimension of neither perception nor non-perception—focuses on the oneness dependent on the signless immersion of the heart.
mn121:10.2 Their mind leaps forth, gains confidence, settles down, and becomes decided in that signless immersion of the heart.
mn121:10.3 They understand:
mn121:10.4 ‘Here there is no stress due to the perception of the dimension of nothingness or the perception of the dimension of neither perception nor non-perception.
mn121:10.5 There is only this modicum of stress, namely that related to the six sense fields dependent on this body and conditioned by life.’
mn121:10.6 They understand: ‘This field of perception is empty of the perception of the dimension of nothingness. It is empty of the perception of the dimension of neither perception nor non-perception.
mn121:10.7 There is only this that is not emptiness, namely that related to the six sense fields dependent on this body and conditioned by life.’
mn121:10.8 And so they regard it as empty of what is not there, but as to what remains they understand that it is present.
mn121:10.9 That’s how emptiness manifests in them—genuine, undistorted, and pure.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.