
Buddha
Buddha menjadi pencerita utama, sementara para paccekabuddha hadir sebagai tokoh masa lampau yang dihormati.
Khotbah di Isigili

Isigili Sutta membawa pembaca ke gunung Isigili dekat Rājagaha. Buddha mengenang para paccekabuddha masa lampau, sehingga sutta ini terasa seperti penghormatan kepada jejak para bijaksana yang sunyi.

Buddha menjadi pencerita utama, sementara para paccekabuddha hadir sebagai tokoh masa lampau yang dihormati.
Buddha menjadi pencerita utama, sementara para paccekabuddha hadir sebagai tokoh masa lampau yang dihormati.
Gunung Isigili menjadi pusat suasana sutta ini, sebagai tempat yang menyimpan ingatan para petapa suci.
Sutta ini mengingatkan bahwa tempat dapat menyimpan makna latihan, kesunyian, dan penghormatan terhadap mereka yang telah menembus kebenaran.
Buddha menjelaskan berbagai keadaan yang tidak mungkin terjadi secara bersamaan dan keadaan yang mungkin terjadi menurut hukum pengalaman dan kamma. Sutta menyusun banyak pasangan: satu Buddha sempurna tidak muncul bersama Buddha sempurna lain dalam satu sistem dunia yang sama; tindakan tertentu membawa jenis akibat tertentu; dan kualitas moral membatasi arah hasil yang mungkin muncul. Rangkaian itu berfungsi seperti peta keteraturan Dhamma—bukan semua kemungkinan terbuka tanpa batas, karena sebab tertentu memiliki konsekuensi dan kondisi tertentu membuat hasil lain tidak mungkin.
mn116:6.1 Sumbha, Subha, Methula, dan Aṭṭhama,
mn116:6.2 lalu Assumegha, Anīgha, dan Sudāṭha,
mn116:6.3 Para Paccekabuddha, pemutus belenggu kelahiran kembali,
mn116:6.4 serta Hiṅgū dan Hiṅga yang perkasa.
mn116:6.5 Dua petapa bernama Jāli, dan Aṭṭhaka;
mn116:6.6 Kosala yang telah mencapai pencerahan, kemudian Subāhu;
mn116:6.7 Upanemi, Nemi, dan Santacitta,
mn116:6.8 Yang benar dan jujur, tanpa noda dan bijaksana.
mn116:6.9 Kāḷa dan Upakāḷa, Vijita dan Jita,
mn116:6.10 Aṅga dan Paṅga, dan juga Guttijita;
mn116:6.11 Passi melepaskan kemelekatan, akar penderitaan,
mn116:6.12 sedangkan Aparājita mengalahkan kekuatan Māra.
mn116:6.13 Satthar, Pavattar, Sarabhaṅga, Lomahaṁsa,
mn116:6.14 Uccaṅgamāya, Asita, Anāsava,
mn116:6.15 Manomaya, dan Bandhumā sang pemotong keangkuhan,
mn116:6.16 Kemudian Adhimutta, dan Ketumā yang tanpa noda.
mn116:6.17 Ketumbharāga, Mātaṅga, dan Ariya,
mn116:6.18 lalu Accuta, Accutagāma, dan Byāmaka;
mn116:6.19 Sumaṅgala, Dabbila, Supatiṭṭhita,
mn116:6.20 Asayha, Khemābhirata, dan Sorata.
mn116:6.21 Saṅgha, Durannaya, dan juga Ujjaya,
mn116:6.22 Pertapa lainnya, Sayha, dengan usaha yang tak tertandingi;
mn116:6.23 Ada dua belas Ānanda, Nanda, dan Upananda,
mn116:6.24 Dan Bhāradvāja, yang membawa tubuh terakhirnya.
mn116:6.25 Bodhi, Mahānāma, dan juga Uttara,
mn116:6.26 Kesī, Sikhī, Sundara, dan Bhāradvāja,
mn116:6.27 Tissa dan Upatissa, yang telah memutuskan belenggu kelahiran kembali,
mn116:6.28 Upasīdarī dan Sīdarī, yang keduanya telah memotong ketagihan.
mn116:6.29 Maṅgala telah mencapai pencerahan, bebas dari nafsu,
mn116:6.30 Usabha memotong jaring, akar penderitaan,
mn116:6.31 Upanīta yang mencapai keadaan damai,
mn116:6.32 Uposatha, Sundara, dan Saccanāma.
mn116:6.33 Jeta, Jayanta, Paduma, dan Uppala;
mn116:6.34 Padumuttara, Rakkhita, dan Pabbata,
mn116:6.35 Mānatthaddha, yang indah dan bebas dari nafsu,
mn116:6.36 dan Buddha Kaṇha, yang pikirannya telah terbebas sempurna.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.