
Buddha
Guru yang menjelaskan akar perpecahan dan jalan menjaga keharmonisan Sangha.
Khotbah di Sāmagāma

Setelah wafatnya Nigaṇṭha Nātaputta, para pengikutnya terpecah dan bertengkar. Ānanda menyampaikan kekhawatiran ini kepada Buddha, lalu Buddha menjelaskan sebab-sebab perselisihan dan cara menjaga keharmonisan komunitas. Inilah Sāmagāma Sutta.

Guru yang menjelaskan akar perpecahan dan jalan menjaga keharmonisan Sangha.

Murid setia yang menyampaikan kekhawatiran tentang perpecahan setelah wafatnya seorang pemimpin agama.
Pemimpin Jain yang wafatnya menjadi latar munculnya perpecahan di antara pengikutnya.
Tempat percakapan tentang perpecahan dan keharmonisan ini berlangsung.
Perselisihan bukan hanya soal perbedaan kata, tetapi soal sikap terhadap ajaran, disiplin, dan kerendahan hati dalam komunitas.
Ānanda kembali membicarakan kekacauan para pengikut Nigaṇṭha setelah kematian gurunya dan bertanya bagaimana Saṅgha akan bertahan setelah Buddha wafat. Buddha menekankan bahwa Dhamma telah diajarkan dengan lengkap dan para murid tidak bergantung pada pribadi guru sebagai pemilik ajaran. Percakapan kemudian mengulas sebab-sebab konflik, cara menanganinya, serta pentingnya tidak membiarkan perselisihan kecil berkembang menjadi perpecahan. Buddha juga membedakan kedekatan yang sehat dengan guru dari keterikatan pada guru, sehingga kelangsungan komunitas ditempatkan pada praktik Dhamma dan kedewasaan para murid.
mn104:2.1 Now at that time the Jain ascetic of the Ñātika clan had recently passed away at Pāvā.
mn104:2.2 With his passing the Jain ascetics split, dividing into two factions, fighting, quarreling, and disputing, continually wounding each other with barbed words:
mn104:2.3 “You don’t understand this teaching and training. I understand this teaching and training. What, you understand this teaching and training? You’re practicing wrong. I’m practicing right. I stay on topic, you don’t. You said last what you should have said first. You said first what you should have said last. What you’ve thought so much about has been disproved. Your doctrine is refuted. Go on, save your doctrine! You’re trapped; get yourself out of this—if you can!”
mn104:2.4 You’d think there was nothing but slaughter going on among the Jain ascetics.
mn104:2.5 And the Jain Ñātika’s white-clothed lay disciples were disillusioned, dismayed, and disappointed in the Jain ascetics. They were equally disappointed with a teaching and training so poorly explained and poorly propounded, not emancipating, not leading to peace, proclaimed by someone who is not a fully awakened Buddha, with broken monument and without a refuge.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.