
Buddha
Guru yang menjelaskan akar perpecahan dan jalan menjaga keharmonisan Sangha.
Khotbah di Sāmagāma

Setelah wafatnya Nigaṇṭha Nātaputta, para pengikutnya terpecah dan bertengkar. Ānanda menyampaikan kekhawatiran ini kepada Buddha, lalu Buddha menjelaskan sebab-sebab perselisihan dan cara menjaga keharmonisan komunitas. Inilah Sāmagāma Sutta.

Guru yang menjelaskan akar perpecahan dan jalan menjaga keharmonisan Sangha.

Murid setia yang menyampaikan kekhawatiran tentang perpecahan setelah wafatnya seorang pemimpin agama.
Pemimpin Jain yang wafatnya menjadi latar munculnya perpecahan di antara pengikutnya.
Tempat percakapan tentang perpecahan dan keharmonisan ini berlangsung.
Perselisihan bukan hanya soal perbedaan kata, tetapi soal sikap terhadap ajaran, disiplin, dan kerendahan hati dalam komunitas.
Ānanda kembali membicarakan kekacauan para pengikut Nigaṇṭha setelah kematian gurunya dan bertanya bagaimana Saṅgha akan bertahan setelah Buddha wafat. Buddha menekankan bahwa Dhamma telah diajarkan dengan lengkap dan para murid tidak bergantung pada pribadi guru sebagai pemilik ajaran. Percakapan kemudian mengulas sebab-sebab konflik, cara menanganinya, serta pentingnya tidak membiarkan perselisihan kecil berkembang menjadi perpecahan. Buddha juga membedakan kedekatan yang sehat dengan guru dari keterikatan pada guru, sehingga kelangsungan komunitas ditempatkan pada praktik Dhamma dan kedewasaan para murid.
mn104:19.1 And how is there a verdict of further penalty?
mn104:19.2 It’s when a mendicant accuses a mendicant of the kind of heavy offense that entails expulsion, or close to it:
mn104:19.3 ‘Venerable, do you recall committing the kind of heavy offense that entails expulsion or close to it?’
mn104:19.4 They say:
mn104:19.5 ‘No, reverend, I don’t recall committing such an offense.’
mn104:19.6 But though they try to get out of it, the mendicant pursues the issue:
mn104:19.7 ‘Surely the venerable must know perfectly well if you recall committing an offense that entails expulsion or close to it!’
mn104:19.8 They say:
mn104:19.9 ‘Reverend, I don’t recall committing a heavy offense of that nature.
mn104:19.10 But I do recall committing a light offense.’
mn104:19.11 But though they try to get out of it, the mendicant pursues the issue:
mn104:19.12 ‘Surely the venerable must know perfectly well if you recall committing an offense that entails expulsion or close to it!’
mn104:19.13 They say:
mn104:19.14 ‘Reverend, I’ll go so far as to admit this light offense even when not asked.
mn104:19.15 Why wouldn’t I admit a heavy offense when asked?’
mn104:19.16 They say:
mn104:19.17 ‘You wouldn’t have admitted that light offense without being asked, so why would you admit a heavy offense?
mn104:19.18 Surely the venerable must know perfectly well if you recall committing an offense that entails expulsion or close to it!’
mn104:19.19 They say:
mn104:19.20 ‘Reverend, I do recall committing the kind of heavy offense that entails expulsion or close to it.
mn104:19.21 I spoke too hastily when I said
mn104:19.22 that I didn’t recall it.’
mn104:19.23 That’s how there is further penalty. And that’s how certain disciplinary issues are settled, that is,
mn104:19.24 by further penalty.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.