
Buddha
Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Khotbah di Devadaha

Di Devadaha, Buddha membahas pandangan para Nigaṇṭha yang menekankan bahwa penderitaan sekarang terutama berasal dari perbuatan lampau dan harus dihabiskan melalui tapa keras. Buddha menilai pandangan itu tidak cukup dan menunjukkan jalan yang lebih jernih menuju berakhirnya penderitaan. Inilah Devadaha Sutta.

Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Kelompok petapa Jain yang dijadikan contoh dalam pembahasan tentang penderitaan dan karma.
Kota Sakya tempat Buddha menyampaikan pembahasan ini kepada para bhikkhu.
Sutta ini menolak penyederhanaan bahwa penderitaan sekarang hanya akibat masa lalu; latihan harus dipahami melalui sebab, pilihan, dan pelepasan yang nyata.
mn101:46.1 Demikianlah, para bhikkhu, ajaran Sang Tathāgata.
mn101:46.2 Dengan berkata demikian, para bhikkhu, Sang Tathāgata layak dipuji atas sepuluh dasar yang sah.
mn101:46.3 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena perbuatan masa lampau,
mn101:46.4 Sungguh, para bhikkhu, Sang Tathāgata telah melakukan perbuatan baik di masa lampau, karena kini Beliau merasakan kebahagiaan yang demikian murni dan tanpa noda.
mn101:46.5 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa;
mn101:46.6 Sungguh, para bhikkhu, Sang Tathāgata diciptakan oleh Tuhan yang baik, karena saat ini Beliau merasakan kenikmatan yang demikian murni dan tanpa noda.
mn101:46.7 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena sebab keadaan dan alam,
mn101:46.8 sungguh, para bhikkhu, Sang Tathāgata berasal dari keadaan yang baik, karena saat ini Beliau merasakan kenikmatan yang demikian murni dan tanpa noda.
mn101:46.9 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena sebab kelahiran kembali,
mn101:46.10 sungguh, para bhikkhu, Sang Tathāgata terlahir kembali dalam kelas yang baik, karena saat ini Beliau merasakan kenikmatan yang demikian murni dan tanpa noda.
mn101:46.11 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena usaha dalam kehidupan ini,
mn101:46.12 maka sesungguhnya, para bhikkhu, Sang Tathāgata telah berusaha dengan baik dalam kehidupan ini, karena saat ini Beliau mengalami perasaan suka yang demikian murni dan tanpa noda.
mn101:46.13 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena perbuatan masa lampau, maka Sang Tathāgata layak dipuji;
mn101:46.14 dan jika makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena perbuatan masa lampau, maka Sang Tathāgata pun layak dipuji.
mn101:46.15 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, maka Sang Tathāgata layak dipuji;
mn101:46.16 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena ciptaan penguasa tertinggi, maka Tathāgata layak dipuji.
mn101:46.17 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena keadaan kelahiran dan alam, maka Tathāgata layak dipuji;
mn101:46.18 jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena keadaan kelahiran dan alam, maka Tathāgata layak dipuji.
mn101:46.19 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena kelas kelahiran, maka Tathāgata layak dipuji;
mn101:46.20 jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena kelas kelahiran, maka Tathāgata layak dipuji.
mn101:46.21 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena usaha dalam kehidupan ini, maka Tathāgata layak dipuji;
mn101:46.22 jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena usaha dalam kehidupan ini, maka Tathāgata layak dipuji.
mn101:46.23 Demikianlah, para bhikkhu, ajaran Tathāgata.
mn101:46.24 Dengan berkata demikian, para bhikkhu, Tathāgata layak dipuji atas sepuluh dasar yang sah ini.”
mn101:46.25 Demikianlah Sang Bhagavā mengajarkan.
mn101:46.26 Para bhikkhu itu, dengan puas hati, menyetujui apa yang dikatakan oleh Bhagavā.
mn101:46.27 Selesailah Devadahasutta, yang pertama.
Terjemahan Indonesia dibuat dengan bantuan AI oleh Bunbun.