‹
MN 101

Devadahasutta

Khotbah di Devadaha

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

Ilustrasi pendamping Majjhima Nikāya MN 101, dengan Bunbun dan kucingnya sebagai saksi
KENALI DUNIA MN 101

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Di Devadaha, Buddha membahas pandangan para Nigaṇṭha yang menekankan bahwa penderitaan sekarang terutama berasal dari perbuatan lampau dan harus dihabiskan melalui tapa keras. Buddha menilai pandangan itu tidak cukup dan menunjukkan jalan yang lebih jernih menuju berakhirnya penderitaan. Inilah Devadaha Sutta.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.

TOKOH

Para Nigaṇṭha

Kelompok petapa Jain yang dijadikan contoh dalam pembahasan tentang penderitaan dan karma.

TEMPAT

Devadaha

Kota Sakya tempat Buddha menyampaikan pembahasan ini kepada para bhikkhu.

GAGASAN

Tidak semua penderitaan dijelaskan oleh masa lampau

Sutta ini menolak penyederhanaan bahwa penderitaan sekarang hanya akibat masa lalu; latihan harus dipahami melalui sebab, pilihan, dan pelepasan yang nyata.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha membahas ajaran para Nigaṇṭha di Devadaha yang menyatakan bahwa semua pengalaman sekarang disebabkan kamma masa lalu dan bahwa kamma buruk dapat dihabiskan dengan menyiksa diri sambil tidak membuat kamma baru. Buddha menguji teori itu: para petapa tersebut bahkan tidak mengetahui siapa mereka di kehidupan lampau, perbuatan apa yang pernah dilakukan, berapa banyak penderitaan yang sudah habis, atau berapa banyak yang tersisa. Ia menunjukkan bahwa rasa sakit akibat usaha tidak otomatis membuktikan pemurnian. Pembicaraan kemudian membandingkan usaha yang sia-sia dengan usaha yang tepat, serta menjelaskan bagaimana latihan Buddha menggunakan tindakan sekarang secara bijaksana untuk meninggalkan sebab penderitaan.

mn101:46.1 Demikianlah, para bhikkhu, ajaran Sang Tathāgata.

mn101:46.2 Dengan berkata demikian, para bhikkhu, Sang Tathāgata layak dipuji atas sepuluh dasar yang sah.

mn101:46.3 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena perbuatan masa lampau,

mn101:46.4 Sungguh, para bhikkhu, Sang Tathāgata telah melakukan perbuatan baik di masa lampau, karena kini Beliau merasakan kebahagiaan yang demikian murni dan tanpa noda.

mn101:46.5 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa;

mn101:46.6 Sungguh, para bhikkhu, Sang Tathāgata diciptakan oleh Tuhan yang baik, karena saat ini Beliau merasakan kenikmatan yang demikian murni dan tanpa noda.

mn101:46.7 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena sebab keadaan dan alam,

mn101:46.8 sungguh, para bhikkhu, Sang Tathāgata berasal dari keadaan yang baik, karena saat ini Beliau merasakan kenikmatan yang demikian murni dan tanpa noda.

mn101:46.9 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena sebab kelahiran kembali,

mn101:46.10 sungguh, para bhikkhu, Sang Tathāgata terlahir kembali dalam kelas yang baik, karena saat ini Beliau merasakan kenikmatan yang demikian murni dan tanpa noda.

mn101:46.11 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena usaha dalam kehidupan ini,

mn101:46.12 maka sesungguhnya, para bhikkhu, Sang Tathāgata telah berusaha dengan baik dalam kehidupan ini, karena saat ini Beliau mengalami perasaan suka yang demikian murni dan tanpa noda.

mn101:46.13 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena perbuatan masa lampau, maka Sang Tathāgata layak dipuji;

mn101:46.14 dan jika makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena perbuatan masa lampau, maka Sang Tathāgata pun layak dipuji.

mn101:46.15 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, maka Sang Tathāgata layak dipuji;

mn101:46.16 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena ciptaan penguasa tertinggi, maka Tathāgata layak dipuji.

mn101:46.17 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena keadaan kelahiran dan alam, maka Tathāgata layak dipuji;

mn101:46.18 jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena keadaan kelahiran dan alam, maka Tathāgata layak dipuji.

mn101:46.19 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena kelas kelahiran, maka Tathāgata layak dipuji;

mn101:46.20 jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena kelas kelahiran, maka Tathāgata layak dipuji.

mn101:46.21 Jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami suka dan duka karena usaha dalam kehidupan ini, maka Tathāgata layak dipuji;

mn101:46.22 jika, para bhikkhu, makhluk-makhluk tidak mengalami suka dan duka karena usaha dalam kehidupan ini, maka Tathāgata layak dipuji.

mn101:46.23 Demikianlah, para bhikkhu, ajaran Tathāgata.

mn101:46.24 Dengan berkata demikian, para bhikkhu, Tathāgata layak dipuji atas sepuluh dasar yang sah ini.”

mn101:46.26 Para bhikkhu itu, dengan puas hati, menyetujui apa yang dikatakan oleh Bhagavā.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.