
Buddha
Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Khotbah di Devadaha

Di Devadaha, Buddha membahas pandangan para Nigaṇṭha yang menekankan bahwa penderitaan sekarang terutama berasal dari perbuatan lampau dan harus dihabiskan melalui tapa keras. Buddha menilai pandangan itu tidak cukup dan menunjukkan jalan yang lebih jernih menuju berakhirnya penderitaan. Inilah Devadaha Sutta.

Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Kelompok petapa Jain yang dijadikan contoh dalam pembahasan tentang penderitaan dan karma.
Kota Sakya tempat Buddha menyampaikan pembahasan ini kepada para bhikkhu.
Sutta ini menolak penyederhanaan bahwa penderitaan sekarang hanya akibat masa lalu; latihan harus dipahami melalui sebab, pilihan, dan pelepasan yang nyata.
mn101:45.1 Dengan mengetahui dan melihat demikian, batin mereka terbebas dari noda batin keinginan indrawi, terbebas dari noda batin keinginan untuk terlahir kembali, dan terbebas dari noda batin ketidaktahuan.
mn101:45.2 Ketika terbebas, timbul pengetahuan: ‘Telah terbebas’.
mn101:45.3 Mereka memahami: ‘Kelahiran kembali telah berakhir, perjalanan spiritual telah selesai, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.’
mn101:45.4 Demikian pula, para bhikkhu, usaha dan perjuangan itu membuahkan hasil.
Terjemahan Indonesia dibuat dengan bantuan AI oleh Bunbun.