
Buddha
Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Khotbah di Devadaha

Di Devadaha, Buddha membahas pandangan para Nigaṇṭha yang menekankan bahwa penderitaan sekarang terutama berasal dari perbuatan lampau dan harus dihabiskan melalui tapa keras. Buddha menilai pandangan itu tidak cukup dan menunjukkan jalan yang lebih jernih menuju berakhirnya penderitaan. Inilah Devadaha Sutta.

Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Kelompok petapa Jain yang dijadikan contoh dalam pembahasan tentang penderitaan dan karma.
Kota Sakya tempat Buddha menyampaikan pembahasan ini kepada para bhikkhu.
Sutta ini menolak penyederhanaan bahwa penderitaan sekarang hanya akibat masa lalu; latihan harus dipahami melalui sebab, pilihan, dan pelepasan yang nyata.
mn101:37.1 Setelah meninggalkan ketamakan terhadap dunia, ia berdiam dengan hati yang bebas dari ketamakan, membersihkan pikirannya dari ketamakan.
mn101:37.2 Setelah meninggalkan niat buruk dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari niat buruk, penuh belas kasih terhadap semua makhluk hidup, membersihkan pikirannya dari niat buruk.
mn101:37.3 Setelah meninggalkan kemalasan dan kantuk, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari kemalasan dan kantuk, dengan persepsi cahaya, penuh perhatian dan sadar penuh, membersihkan pikiran dari kemalasan dan kantuk.
mn101:37.4 Setelah meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam tanpa kegelisahan, dengan pikiran yang tenang di dalam batin, membersihkan pikiran dari kegelisahan dan penyesalan.
mn101:37.5 Setelah meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam dengan telah melampaui keragu-raguan, tidak bimbang mengenai kualitas-kualitas yang bermanfaat, membersihkan pikiran dari keragu-raguan.
Terjemahan Indonesia dibuat dengan bantuan AI oleh Bunbun.