
Buddha
Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Khotbah di Devadaha

Di Devadaha, Buddha membahas pandangan para Nigaṇṭha yang menekankan bahwa penderitaan sekarang terutama berasal dari perbuatan lampau dan harus dihabiskan melalui tapa keras. Buddha menilai pandangan itu tidak cukup dan menunjukkan jalan yang lebih jernih menuju berakhirnya penderitaan. Inilah Devadaha Sutta.

Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Kelompok petapa Jain yang dijadikan contoh dalam pembahasan tentang penderitaan dan karma.
Kota Sakya tempat Buddha menyampaikan pembahasan ini kepada para bhikkhu.
Sutta ini menolak penyederhanaan bahwa penderitaan sekarang hanya akibat masa lalu; latihan harus dipahami melalui sebab, pilihan, dan pelepasan yang nyata.
Buddha membahas ajaran para Nigaṇṭha di Devadaha yang menyatakan bahwa semua pengalaman sekarang disebabkan kamma masa lalu dan bahwa kamma buruk dapat dihabiskan dengan menyiksa diri sambil tidak membuat kamma baru. Buddha menguji teori itu: para petapa tersebut bahkan tidak mengetahui siapa mereka di kehidupan lampau, perbuatan apa yang pernah dilakukan, berapa banyak penderitaan yang sudah habis, atau berapa banyak yang tersisa. Ia menunjukkan bahwa rasa sakit akibat usaha tidak otomatis membuktikan pemurnian. Pembicaraan kemudian membandingkan usaha yang sia-sia dengan usaha yang tepat, serta menjelaskan bagaimana latihan Buddha menggunakan tindakan sekarang secara bijaksana untuk meninggalkan sebab penderitaan.
mn101:7.1 Suppose a man was struck by an arrow thickly smeared with poison,
mn101:7.2 causing painful feelings, sharp and severe.
mn101:7.3 Their friends and colleagues, relatives and kin would get a surgeon to treat them.
mn101:7.4 The surgeon would cut open the wound with a scalpel,
mn101:7.5 causing painful feelings, sharp and severe.
mn101:7.6 They’d probe for the arrow,
mn101:7.7 causing painful feelings, sharp and severe.
mn101:7.8 They’d extract the arrow,
mn101:7.9 causing painful feelings, sharp and severe.
mn101:7.10 They’d apply cauterizing medicine to the wound,
mn101:7.11 causing painful feelings, sharp and severe.
mn101:7.12 After some time that wound would be healed and the skin regrown. They’d be healthy, happy, autonomous, master of themselves, able to go where they wanted.
mn101:7.13 They’d think,
mn101:7.14 “Earlier I was struck by an arrow thickly smeared with poison,
mn101:7.15 causing painful feelings, sharp and severe.
mn101:7.16 My friends and colleagues, relatives and kin got a surgeon to treat me.
mn101:7.17 At each step, the treatment was painful.
mn101:7.25 But these days that wound is healed and the skin regrown. I’m healthy, happy, autonomous, my own master, able to go where I want.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.