
Buddha
Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Khotbah di Devadaha

Di Devadaha, Buddha membahas pandangan para Nigaṇṭha yang menekankan bahwa penderitaan sekarang terutama berasal dari perbuatan lampau dan harus dihabiskan melalui tapa keras. Buddha menilai pandangan itu tidak cukup dan menunjukkan jalan yang lebih jernih menuju berakhirnya penderitaan. Inilah Devadaha Sutta.

Guru yang menguji pandangan tentang karma lampau, tapa keras, dan jalan berakhirnya penderitaan.
Kelompok petapa Jain yang dijadikan contoh dalam pembahasan tentang penderitaan dan karma.
Kota Sakya tempat Buddha menyampaikan pembahasan ini kepada para bhikkhu.
Sutta ini menolak penyederhanaan bahwa penderitaan sekarang hanya akibat masa lalu; latihan harus dipahami melalui sebab, pilihan, dan pelepasan yang nyata.
mn101:34.1 When they see a sight with their eyes, they don’t get caught up in the features and details.
mn101:34.2 If the faculty of sight were left unrestrained, bad unskillful qualities of covetousness and displeasure would become overwhelming. For this reason, they practice restraint, protecting the faculty of sight, and achieving its restraint.
mn101:34.3 When they hear a sound with their ears …
mn101:34.4 When they smell an odor with their nose …
mn101:34.5 When they taste a flavor with their tongue …
mn101:34.6 When they feel a touch with their body …
mn101:34.7 When they know an idea with their mind, they don’t get caught up in the features and details.
mn101:34.8 If the faculty of mind were left unrestrained, bad unskillful qualities of covetousness and displeasure would become overwhelming. For this reason, they practice restraint, protecting the faculty of mind, and achieving its restraint.
mn101:34.9 When they have this noble sense restraint, they experience an unsullied bliss inside themselves.
Terjemahan Indonesia dibuat dengan bantuan AI oleh Bunbun.