mn100:18.1 Kemudian, Bhāradvāja, aku berpikir:
mn100:18.2 ‘Bagaimana jika aku berlatih keheningan tanpa napas?’
mn100:18.3 Maka, Bhāradvāja, aku menahan napas masuk dan keluar melalui mulut dan hidungku.
mn100:18.4 Ketika napas masuk dan keluar melalui mulut dan hidungku tertahan, angin keluar melalui lubang telingaku dengan suara yang sangat keras.
mn100:18.5 Bagaikan suara bengkel pandai besi yang mengembus dengan sangat keras,
mn100:18.6 demikian pula, Bhāradvāja, ketika napas masuk dan keluar melalui mulut dan hidungku tertahan, angin keluar melalui lubang telingaku dengan suara yang sangat keras.
mn100:18.7 Semangatku sungguh terbangkitkan dan tidak kendur, perhatianku tegak dan tidak kabur; namun tubuhku menjadi tegang dan tidak tenang, karena aku terlalu memaksakan diri dalam usaha yang menyakitkan itu.