mn100:16.1 Kemudian, Bhāradvāja, sebuah perumpamaan ketiga pun terlintas dalam pikiranku, yang belum pernah terdengar sebelumnya.
mn100:16.2 Misalkan, Bhāradvāja, ada sebatang kayu kering yang layu, tergeletak di tanah kering yang jauh dari air.
mn100:16.3 Kemudian seseorang datang membawa tongkat kayu untuk membuat api, berpikir,
mn100:16.4 ‘Aku akan menyalakan api dan menghasilkan panas.’
mn100:16.5 Bagaimana menurutmu, Bhāradvāja,
mn100:16.6 Dapatkah orang itu, dengan mengambil kayu penggosok atas, menggosok-gosokkan pada batang kayu yang kering dan lapuk itu, yang terletak di tanah kering jauh dari air, untuk menyalakan api dan memunculkan panas?”
mn100:16.7 “Ya, Gotama yang mulia.”
mn100:16.8 Mengapa demikian?
mn100:16.9 Karena itu adalah sebatang kayu kering yang layu, dan terletak di tanah kering yang jauh dari air.”
mn100:16.10 “Demikian pula, Bhāradvāja, para petapa atau brahmana mana pun yang berdiam dengan tubuh dan pikiran terasing dari kenikmatan indria, dan hasrat, kelekatan, kegilaan, kehausan, serta gejolak nafsu terhadap kenikmatan indria telah sepenuhnya ditinggalkan dan diredakan di dalam batin mereka—apakah mereka mengalami perasaan sakit yang tajam, keras, dan menyengat akibat pengikutsertaan diri ataupun tidak, mereka tetap mampu mencapai pengetahuan, penglihatan, dan pencerahan tertinggi.
mn100:16.11 Ini, Bhāradvāja, adalah perumpamaan ketiga yang muncul padaku, yang belum pernah kudengar sebelumnya.
mn100:16.12 Demikianlah, Bhāradvāja, ketiga perumpamaan ini muncul padaku, yang belum pernah kudengar sebelumnya.