mn100:15.1 Kemudian, Bhāradvāja, perumpamaan kedua terlintas dalam pikiranku, yang belum pernah terdengar sebelumnya.
mn100:15.2 Misalnya, Bhāradvāja, sebatang kayu yang masih hijau dan lembap, diletakkan di tanah kering yang jauh dari air.
mn100:15.3 Kemudian seseorang datang membawa tongkat pemantik api, berpikir
mn100:15.4 ‘Aku akan menyalakan api, aku akan memunculkan panas.’
mn100:15.5 Bagaimana menurutmu, Bhāradvāja,
mn100:15.6 dapatkah orang itu, dengan menggosokkan tongkat kayu atas pada kayu bawah yang masih hijau dan bergetah itu, yang diletakkan di tanah kering jauh dari air, menyalakan api dan memunculkan panas?”
mn100:15.7 “Tidak, Bhante Gotama.
mn100:15.8 Mengapa demikian?
mn100:15.9 Karena itu, Bhante Gotama, kayu yang masih hijau dan bergetah, meskipun diletakkan di tanah kering yang jauh dari air;
mn100:15.10 orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.” “Demikian pula, Bhāradvāja, para petapa atau brahmana mana pun yang berdiam dengan tubuh dan pikiran terasing dari kenikmatan indria, tetapi keinginan indria, kasih sayang indria, kegilaan indria, kehausan indria, dan gejolak indria terhadap kenikmatan-kenikmatan itu belum sepenuhnya ditinggalkan dan belum sepenuhnya diredakan di dalam batin mereka—apakah mereka, para mulia petapa dan brahmana itu, mengalami perasaan sakit yang menyiksa, tajam, keras, dan pedih akibat usaha keras mereka, atau tidak mengalami perasaan sakit yang menyiksa, tajam, keras, dan pedih akibat usaha keras mereka, mereka tetap tidak mampu mencapai pengetahuan, penglihatan, dan pencerahan tertinggi.
mn100:15.11 Inilah, Bhāradvāja, perumpamaan kedua yang terlintas dalam pikiranku, yang belum pernah kudengar sebelumnya.