mn100:14.1 Dan kemudian, Bhāradvāja, tiga perumpamaan ini muncul padaku, yang bukan merupakan inspirasi gaib, juga bukan yang pernah kudengar sebelumnya di masa lampau.
mn100:14.2 Misalkan, Bhāradvāja, ada sebatang kayu basah yang masih bergetah, dan kayu itu terletak di dalam air.
mn100:14.3 Kemudian seseorang datang membawa tongkat pemantik api, berpikir:
mn100:14.4 ‘Aku akan menyalakan api, aku akan memunculkan panas.’
mn100:14.5 Bagaimana menurutmu, Bhāradvāja,
mn100:14.6 Dapatkah orang itu, dengan mengambil kayu penggosok atas, menggosok-gosokkannya pada batang kayu yang masih hijau dan bergetah yang terletak di dalam air, menyalakan api dan memunculkan panas?”
mn100:14.7 “Tidak, Yang Mulia Gotama.
mn100:14.8 Mengapa demikian?
mn100:14.9 Karena, Yang Mulia Gotama, kayu itu masih hijau dan bergetah, dan lagi pula terletak di dalam air;
mn100:14.10 orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kesusahan.”
mn100:14.11 “Demikian pula, Bhāradvāja, para petapa atau brahmana mana pun yang berdiam tanpa terlepas dari kenikmatan indria baik melalui jasmani maupun batin, dan nafsu keinginan terhadap kenikmatan indria, kecintaan terhadap kenikmatan indria, kegilaan terhadap kenikmatan indria, kehausan terhadap kenikmatan indria, dan gejolak nafsu terhadap kenikmatan indria itu belum sepenuhnya ditinggalkan dan belum sepenuhnya diredakan di dalam batin mereka—apakah para petapa dan brahmana yang mulia itu mengalami perasaan sakit yang tajam, keras, dan menyengat akibat pengikutsertaan diri mereka atau tidak, mereka tetap tidak mampu mencapai pengetahuan, penglihatan, dan pencerahan tertinggi. Bahkan jika para petapa dan brahmana yang mulia itu tidak mengalami perasaan sakit yang tajam, keras, dan menyengat akibat pengikutsertaan diri mereka, mereka tetap tidak mampu mencapai pengetahuan, penglihatan, dan pencerahan tertinggi.”
mn100:14.12 Ini, Bhāradvāja, adalah perumpamaan pertama yang terlintas dalam pikiranku, yang belum pernah terdengar sebelumnya.