‹
MN 100

Saṅgāravasutta

Khotbah kepada Saṅgārava

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 100

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Brahmana Saṅgārava bertanya apakah para petapa mengaku mencapai pengetahuan karena tradisi, keyakinan, atau pengalaman langsung. Buddha menjelaskan tiga jenis guru dan menceritakan pencarian-Nya hingga menemukan pencerahan. Inilah Saṅgārava Sutta.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang menjelaskan dasar pengetahuan-Nya melalui pengalaman langsung.

TOKOH

Saṅgārava

Brahmana muda yang menguji sumber klaim pengetahuan para petapa.

TOKOH

Dhānañjānī

Perempuan brahmana berbakti yang mendorong Saṅgārava menemui Buddha.

TEMPAT

Caṇḍalakappa

Desa tempat Buddha dan Saṅgārava berdialog.

GAGASAN

Pengetahuan yang dialami sendiri

Ajaran Buddha tidak hanya diwarisi atau dipercayai; ia berakar pada pencarian, latihan, dan realisasi langsung.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Brahmana Saṅgārava bertanya kepada Buddha tentang para petapa yang mengaku mencapai pengetahuan tinggi: apakah Buddha termasuk mereka yang hanya mengikuti tradisi, mereka yang memperoleh pengetahuan melalui keyakinan, atau mereka yang mengetahui sendiri. Buddha menjawab dengan menceritakan pencarian pribadinya. Ia meninggalkan kehidupan rumah tangga, belajar kepada Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta, lalu menjalani praktik keras yang tidak membawa tujuan. Setelah meninggalkan ekstrem tersebut, ia menemukan jalan meditasi yang menghasilkan tiga pengetahuan dan pencerahan. Dengan demikian klaim Buddha tidak didasarkan pada kitab turun-temurun atau kepercayaan kepada orang lain, tetapi pada pengalaman langsung.

mn100:9.1 Before my awakening—when I was still unawakened but intent on awakening—I thought:

mn100:9.2 ‘Life at home is cramped and dirty, life gone forth is wide open.

mn100:9.3 It’s not easy for someone living at home to lead the spiritual life utterly full and pure, like a polished shell.

mn100:9.4 Why don’t I shave off my hair and beard, dress in ocher robes, and go forth from the lay life to homelessness?’

mn100:9.5 Some time later, while still with pristine black hair, blessed with youth, in the prime of life—though my mother and father wished otherwise, weeping with tearful faces—I shaved off my hair and beard, dressed in ocher robes, and went forth from the lay life to homelessness.

mn100:9.6 Once I had gone forth I set out to discover what is skillful, seeking the supreme state of sublime peace. I approached Āḷāra Kālāma and said to him,

mn100:9.7 ‘Reverend Kālāma, I wish to lead the spiritual life in this teaching and training.’

mn100:9.10 This teaching is such that a sensible person can soon realize their own denomination with their own insight and live having achieved it.’

mn100:9.12 As far as lip-recital and verbal repetition went, I spoke the doctrine of knowledge, the elder doctrine. I claimed to know and see, and so did others.

mn100:9.14 ‘It is not solely by mere faith that Āḷāra Kālāma declares: “I realize this teaching with my own insight, and live having achieved it.”

mn100:9.15 Surely he meditates knowing and seeing this teaching.’

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.