“Khīṇāsavaṁ vigatarajaṁ anejaṁ,
Yang telah melenyapkan kekotoran batin, bebas dari debu, tak tergoyahkan,
Bab Cittalatā
Kisah ini mengajak kita merenungkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh kelahiran atau status sosial, melainkan oleh kualitas batin dan perbuatannya. Mari kita baca dengan hati terbuka, dan lihat bagaimana sebuah momen penghormatan yang tulus dapat membawa perubahan besar.
Seorang perempuan dari kasta Caṇḍāla, yang hidupnya singkat, didorong oleh seorang resi untuk bersujud kepada Buddha Gotama. Saat ia bersujud, ia ditanduk sapi dan meninggal, namun karena keyakinan dan penghormatannya, ia terlahir kembali di alam surga sebagai dewi yang cantik dan berkuasa. Ia kemudian kembali menemui Buddha untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.
“Khīṇāsavaṁ vigatarajaṁ anejaṁ,
Yang telah melenyapkan kekotoran batin, bebas dari debu, tak tergoyahkan,
Ekaṁ araññamhi raho nisinnaṁ;
Duduk sendirian di dalam hutan, dalam kesunyian;
Deviddhipattā upasaṅkamitvā,
Setelah mencapai keagungan surgawi, mendekati,
Vandāmi taṁ vīra mahānubhāvan”ti.
Aku bersujud kepadamu, hai pahlawan yang maha mulia.”