Sataṁ nikkhā sataṁ assā,
Seratus keping emas, seratus kuda,
Cittalatāvagga
Kisah ini mengajak kita merenungkan bahwa kemurahan hati tidak diukur dari besarnya pemberian, melainkan dari ketulusan niat. Mari kita baca dengan hati terbuka dan lihat bagaimana sebuah tindakan sederhana bisa membawa kebahagiaan yang tak terduga.
Seorang bhikkhu bertanya kepada dewa tentang seorang perempuan miskin yang memberinya sisa nasi. Dewa itu menjelaskan bahwa perempuan tersebut telah terlahir kembali di alam dewa Nimmanarati karena persembahannya. Kisah ini menegaskan bahwa bahkan pemberian kecil yang diberikan dengan hati tulus dapat membawa hasil yang luar biasa.
Sataṁ nikkhā sataṁ assā,
Seratus keping emas, seratus kuda,
sataṁ assatarīrathā;
seratus kereta yang ditarik kuda betina;
Sataṁ kaññāsahassāni,
Seratus ribu gadis,
āmuttamaṇikuṇḍalā;
yang memakai kalung dan anting-anting permata;
Etassācāmadānassa,
Dibandingkan dengan pemberian makanan ini,
kalaṁ nāgghanti soḷasiṁ.
semua itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagiannya.