Evaṁ vutte, keṇiyo jaṭilo dakkhiṇaṁ bāhuṁ paggahetvā selaṁ brāhmaṇaṁ etadavoca:
Setelah ia berkata demikian, Keṇiya si jaṭila mengangkat lengan kanannya dan berkata kepada brahmana Sela:
When he said this, Keṇiya pointed with his right arm and said,
Khotbah dengan Sela
Evaṁ vutte, keṇiyo jaṭilo dakkhiṇaṁ bāhuṁ paggahetvā selaṁ brāhmaṇaṁ etadavoca:
Setelah ia berkata demikian, Keṇiya si jaṭila mengangkat lengan kanannya dan berkata kepada brahmana Sela:
When he said this, Keṇiya pointed with his right arm and said,
“yenesā, bho sela, nīlavanarājī”ti.
“Di sana, Sela yang mulia, di barisan hutan yang biru itu.”
“There, worthy Sela, at that line of blue forest.”
Atha kho selo brāhmaṇo tīhi māṇavakasatehi saddhiṁ yena bhagavā tenupasaṅkami.
Kemudian brahmana Sela bersama tiga ratus siswa mudanya mendekati Sang Bhagavā.
Then Sela, together with his young students, approached the Buddha.
Atha kho selo brāhmaṇo te māṇavake āmantesi:
Kemudian brahmana Sela berkata kepada para siswa mudanya:
He said to his young students,
“appasaddā bhonto āgacchantu, pade padaṁ nikkhipantā.
“Datanglah dengan tenang, tuan-tuan, langkahkan kaki demi kaki.
“Come quietly, gentlemen, tread gently.
Durāsadā hi te bhagavanto sīhāva ekacarā.
Sebab para Bhagavā itu sulit didekati, bagaikan singa yang hidup menyendiri.”
For the Buddhas are intimidating, like a lion living alone.
Yadā cāhaṁ, bho, samaṇena gotamena saddhiṁ manteyyaṁ, mā me bhonto antarantarā kathaṁ opātetha;
Ketika aku, Tuan-tuan, sedang berbincang dengan petapa Gotama, janganlah Tuan-tuan memotong pembicaraan di tengah jalan;
When I’m consulting with the ascetic Gotama, don’t interrupt.
kathāpariyosānaṁ me bhavanto āgamentū”ti.
Tuan-tuan sekalian hendaknya menunggu sampai pembicaraanku selesai."
Wait until I’ve finished speaking.”