Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah yang kudengar:
So I have heard.
Khotbah dengan Sela
Evaṁ me sutaṁ—
Demikianlah yang kudengar:
So I have heard.
ekaṁ samayaṁ bhagavā aṅguttarāpesu cārikaṁ caramāno mahatā bhikkhusaṅghena saddhiṁ aḍḍhateḷasehi bhikkhusatehi yena āpaṇaṁ nāma aṅguttarāpānaṁ nigamo tadavasari.
Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang berkelana di negeri Aṅguttarāpa bersama dengan sejumlah besar Saṅgha bhikkhu, yaitu sebanyak seribu dua ratus lima puluh bhikkhu, dan tiba di sebuah kota bernama Āpaṇa.
At one time the Buddha was wandering together with a large Saṅgha of 1,250 mendicants in the land of the Aṅguttarāpans when he arrived at a town of theirs named Āpaṇa.
Assosi kho keṇiyo jaṭilo:
Pertapa berambut kusut bernama Keṇiya mendengar:
The matted-hair ascetic Keṇiya heard:
“samaṇo khalu, bho, gotamo sakyaputto sakyakulā pabbajito aṅguttarāpesu cārikaṁ caramāno mahatā bhikkhusaṅghena saddhiṁ aḍḍhateḷasehi bhikkhusatehi āpaṇaṁ anuppatto.
“Sesungguhnya, Petapa Gotama—putra Sakya, yang telah meninggalkan keduniawian dari keluarga Sakya—telah tiba di Āpaṇa, bersama dengan sejumlah besar Saṅgha bhikkhu, yaitu sebanyak seribu dua ratus lima puluh bhikkhu.
“It seems the ascetic Gotama—a Sakyan, gone forth from a Sakyan family—has arrived at Āpaṇa, together with a large Saṅgha of 1,250 mendicants.
Taṁ kho pana bhavantaṁ gotamaṁ evaṁ kalyāṇo kittisaddo abbhuggato:
Dan mengenai Yang Mulia Gotama itu, tersebar kabar baik yang demikian:
He has this good reputation:
‘itipi so bhagavā arahaṁ sammāsambuddho vijjācaraṇasampanno sugato lokavidū anuttaro purisadammasārathi satthā devamanussānaṁ buddho bhagavā’ti.
‘Sungguh, Bhagavā itu adalah Yang Mahasuci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, sempurna menempuh jalan, pengenal seluruh alam, pemimpin tiada tara bagi makhluk yang perlu dijinakkan, guru para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Bhagavā.’
‘That Blessed One is perfected, a fully awakened Buddha, accomplished in knowledge and conduct, holy, knower of the world, supreme guide for those fit for training, teacher of gods and humans, awakened, blessed.’
So imaṁ lokaṁ sadevakaṁ samārakaṁ sabrahmakaṁ sassamaṇabrāhmaṇiṁ pajaṁ sadevamanussaṁ sayaṁ abhiññā sacchikatvā pavedeti.
Ia telah menyadari secara langsung dengan kebijaksanaan-Nya sendiri dunia ini—dengan para dewanya, Māra, dan Brahmā, serta generasi ini dengan para pertapa dan brahmana, para dewa dan manusia—dan Ia menyatakannya kepada orang lain.
He has realized with his own insight this world—with its gods, Māras, and divinities, this population with its ascetics and brahmins, gods and humans—and he makes it known to others.
So dhammaṁ deseti ādikalyāṇaṁ majjhekalyāṇaṁ pariyosānakalyāṇaṁ sātthaṁ sabyañjanaṁ, kevalaparipuṇṇaṁ parisuddhaṁ brahmacariyaṁ pakāseti.
Ia mengajarkan Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya, yang bermakna dan terperinci; dan Ia mengungkapkan kehidupan suci yang sepenuhnya lengkap dan murni.
He teaches Dhamma that’s good in the beginning, good in the middle, and good in the end, meaningful and well-phrased. And he reveals a spiritual practice that’s entirely full and pure.
Sādhu kho pana tathārūpānaṁ arahataṁ dassanaṁ hotī”ti.
Sungguh baik melihat para Arahanta yang demikian itu.”
It’s good to see such perfected ones.”