‘Apa yang dunia ini—dengan para dewanya, Māra, dan brahmanya, dengan generasi para petapa dan brahmana, para dewa dan manusia—renungkan sebagai kebahagiaan, justru oleh para mulia telah dilihat dengan jelas melalui kebijaksanaan benar sebagai penderitaan’: ini adalah perenungan pertama.
‘What this world—with its gods, Māras, and divinities, this population with its ascetics and brahmins, its gods and humans—focuses on as happiness, the noble ones have clearly seen with right wisdom to be actually suffering’: this is the first contemplation.
‘Apa yang dunia ini—dengan para dewanya, Māra, dan brahmanya, dengan generasi para petapa dan brahmana, para dewa dan manusia—renungkan sebagai penderitaan, justru oleh para mulia telah dilihat dengan jelas melalui kebijaksanaan benar sebagai kebahagiaan’: ini adalah perenungan kedua.
‘What this world focuses on as suffering, the noble ones have clearly seen with right wisdom to be actually happiness’: this is the second contemplation.
Para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu berdiam dengan tekun, bersemangat, dan bertekad, dengan benar merenungkan pasangan-pasangan ajaran demikian, maka salah satu dari dua buah dapat diharapkan:
When a mendicant meditates rightly contemplating a pair of teachings in this way—diligent, keen, and resolute—they can expect one of two results: