Yattha vā pana rūpindriyaṁ desitaṁ, desitā tattheva rūpadhātu rūpakkhandho rūpañcāyatanaṁ.
Di mana pun indria bentuk telah dijelaskan, di situ juga telah dijelaskan unsur bentuk, kelompok bentuk, dan landasan bentuk.
Pembagian 5
Yattha vā pana rūpindriyaṁ desitaṁ, desitā tattheva rūpadhātu rūpakkhandho rūpañcāyatanaṁ.
Di mana pun indria bentuk telah dijelaskan, di situ juga telah dijelaskan unsur bentuk, kelompok bentuk, dan landasan bentuk.
Yattha vā pana sukhā vedanā desitā, desitaṁ tattha sukhindriyaṁ somanassindriyaṁ dukkhasamudayo ca ariyasaccaṁ.
Di mana pun perasaan menyenangkan telah dijelaskan, di situ juga telah dijelaskan indria kesenangan, indria kegembiraan, dan kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan.
Yattha vā pana dukkhā vedanā desitā, desitaṁ tattha dukkhindriyaṁ domanassindriyaṁ dukkhañca ariyasaccaṁ.
Di mana pun perasaan menyakitkan telah dijelaskan, di situ juga telah dijelaskan indria kesakitan, indria ketidak-senangan, dan kebenaran mulia tentang penderitaan.
Yattha vā pana adukkhamasukhā vedanā desitā, desitaṁ tattha upekkhindriyaṁ sabbo ca paṭiccasamuppādo.
Di mana pun perasaan yang bukan menyakitkan maupun menyenangkan telah dijelaskan, di situ juga telah dijelaskan indria keseimbangan dan seluruh kemunculan yang bergantungan.
Kena kāraṇena, adukkhamasukhāya hi vedanāya avijjā anuseti.
Karena alasan apa? Karena pada perasaan yang bukan menyakitkan maupun menyenangkan, ketidaktahuan bersemayam.
Avijjāpaccayā saṅkhārā, saṅkhārapaccayā viññāṇaṁ, viññāṇapaccayā nāmarūpaṁ, nāmarūpapaccayā saḷāyatanaṁ, saḷāyatanapaccayā phasso, phassapaccayā vedanā, vedanāpaccayā taṇhā, taṇhāpaccayā upādānaṁ, upādānapaccayā bhavo, bhavapaccayā jāti, jātipaccayā jarāmaraṇaṁ sokaparidevadukkhadomanassupāyāsā sambhavanti, evametassa kevalassa dukkhakkhandhassa samudayo hoti.
Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, maka bentukan-bentukan kehendak muncul; dengan bentukan-bentukan kehendak sebagai kondisi, kesadaran muncul; dengan kesadaran sebagai kondisi, batin-dan-bentuk muncul; dengan batin-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indria muncul; dengan enam landasan indria sebagai kondisi, kontak muncul; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan muncul; dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan muncul; dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan muncul; dengan kemelekatan sebagai kondisi, keberadaan muncul; dengan keberadaan sebagai kondisi, kelahiran muncul; dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan, dan keputus-asaan muncul. Demikianlah asal mula dari keseluruhan massa penderitaan ini.
So ca sarāgasadosasamohasaṅkilesapakkhena hātabbo, vītarāgavītadosavītamohaariyadhammehi hātabbo.
Ia harus dikuasai oleh kelompok yang disertai nafsu, kebencian, dan delusi, yang merupakan sisi kekotoran; ia harus dikuasai oleh mereka yang terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi, yakni para mulia yang telah mencapai Dhamma.