<b>Na aññato bhikkhu santimeseyyā</b>ti.
<b>Seorang bhikkhu seharusnya tidak mencari kedamaian dari tempat lain</b>—artinya:
14. Penjelasan Sutta Tuvaṭaka
<b>Na aññato bhikkhu santimeseyyā</b>ti.
<b>Seorang bhikkhu seharusnya tidak mencari kedamaian dari tempat lain</b>—artinya:
Aññato asuddhimaggena, micchāpaṭipadāya, aniyyānapatena, aññatra satipaṭṭhānehi, aññatra sammappadhānehi, aññatra iddhipādehi, aññatra indriyehi, aññatra balehi, aññatra bojjhaṅgehi, aññatra ariyā aṭṭhaṅgikā maggā santiṁ upasantiṁ vūpasantiṁ nibbutiṁ paṭipassaddhiṁ na eseyya na gaveseyya na pariyeseyyāti—
Ia seharusnya tidak mencari, tidak menggali, tidak mengusahakan kedamaian, ketenangan, penghentian, kebebasan, atau keteduhan dari hal lain—dari jalan yang tidak murni, dari praktik yang salah, dari jalan yang tidak menuntun keluar, dari selain penegakan perhatian, dari selain usaha yang benar, dari selain landasan kekuatan batin, dari selain indria, dari selain kekuatan, dari selain faktor pencerahan, dari selain Jalan Mulia Berunsur Delapan.
na aññato bhikkhu santimeseyya.
Inilah arti ‘seorang bhikkhu seharusnya tidak mencari kedamaian dari tempat lain’.