Atha vā bhikkhu na lābhahetu, na lābhapaccayā, na lābhakāraṇā, na lābhābhinibbattiyā, na lābhaṁ paripācento, yāvadeva appicchaññeva nissāya santuṭṭhiññeva nissāya sallekhaññeva nissāya pavivekaññeva nissāya idamatthitaññeva nissāya āraññiko hoti, piṇḍapātiko hoti, paṁsukūliko hoti, tecīvariko hoti, sapadānacāriko hoti, khalupacchābhattiko hoti, nesajjiko hoti, yathāsanthatiko hoti.
Atau, seorang bhikkhu—bukan karena alasan perolehan, bukan karena sebab perolehan, bukan karena motif perolehan, bukan demi kelahiran perolehan, bukan demi memupuk perolehan—melainkan semata-mata dengan bersandar pada kecukupan, bersandar pada kepuasan, bersandar pada penajaman batin, bersandar pada keterasingan, bersandar pada kebutuhan akan makna ini—menjadi penghuni hutan, menjadi pemakan dana makanan, menjadi pemakai jubah kain buangan, menjadi pemakai tiga jubah, menjadi pejalan menerima makanan berurutan, menjadi penolak makanan tambahan setelah makan, menjadi pengamal duduk terus-menerus, menjadi pengamal tempat duduk apa adanya.