<b>Lābhakamyā na sikkhati, alābhe ca na kuppatī</b>ti.
<b>Demi perolehan, ia tidak berlatih, dan terhadap ketidakperolehan ia tidak marah</b>—demikianlah.
10. Penjelasan Sutta tentang Sebelum Kehancuran
<b>Lābhakamyā na sikkhati, alābhe ca na kuppatī</b>ti.
<b>Demi perolehan, ia tidak berlatih, dan terhadap ketidakperolehan ia tidak marah</b>—demikianlah.
Kathaṁ lābhakamyā sikkhati?
Bagaimanakah seseorang berlatih demi perolehan?
Idha, bhikkhave, bhikkhu bhikkhuṁ passati lābhiṁ cīvarapiṇḍapātasenāsanagilānapaccayabhesajjaparikkhārānaṁ.
Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu melihat bhikkhu lain yang memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan serta perlengkapan bagi yang sakit.
Tassa evaṁ hoti—
Ia berpikir:
“kena nu kho ayamāyasmā lābhī cīvarapiṇḍapātasenāsanagilānapaccayabhesajjaparikkhārānan”ti?
“Dengan cara apakah Yang Mulia ini memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan serta perlengkapan bagi yang sakit?”
Tassa evaṁ hoti—
Ia berpikir:
“ayaṁ kho āyasmā suttantiko, tenāyamāyasmā lābhī cīvarapiṇḍapātasenāsanagilānapaccayabhesajjaparikkhārānan”ti.
“Yang Mulia ini adalah seorang ahli Sutta, oleh karena itu ia memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan serta perlengkapan bagi yang sakit.”
So lābhahetu lābhapaccayā lābhakāraṇā lābhābhinibbattiyā lābhaṁ paripācento suttantaṁ pariyāpuṇāti.
Karena alasan perolehan, demi perolehan, dengan tujuan perolehan, demi menghasilkan perolehan, ia mempelajari Sutta dengan menginginkan perolehan.
Evampi lābhakamyā sikkhati.
Demikianlah ia berlatih demi perolehan.