Rājā āha—
Raja bertanya,
10. Pertanyaan tentang Mengingat Hal yang Telah Lama Berlalu
Rājā āha—
Raja bertanya,
“bhante nāgasena, kena atītaṁ cirakataṁ saratī”ti?
“Bhante Nāgasena, dengan apakah seseorang mengingat hal yang telah lama berlalu?”
“Satiyā, mahārājā”ti.
“Dengan perhatian (sati), Baginda,” jawabnya.
“Nanu, bhante nāgasena, cittena sarati no satiyā”ti?
“Tetapi, Bhante Nāgasena, bukankah seseorang mengingat dengan pikiran (citta), bukan dengan perhatian?”
“Abhijānāsi nu tvaṁ, mahārāja, kiñcideva karaṇīyaṁ katvā pamuṭṭhan”ti?
“Apakah Baginda ingat pernah melakukan suatu pekerjaan lalu melupakannya?”
“Āma, bhante”ti.
“Ya, Bhante.”
“Kiṁ nu kho tvaṁ, mahārāja, tasmiṁ samaye acittako ahosī”ti?
“Kalau begitu, Baginda, apakah pada saat itu Baginda tidak memiliki pikiran?”
“Na hi, bhante, sati tasmiṁ samaye nāhosī”ti.
“Tentu saja memiliki, Bhante. Hanya saja perhatian pada saat itu tidak ada.”
“Atha kasmā tvaṁ, mahārāja, evamāha—
“Kalau demikian, mengapa Baginda berkata,
‘cittena sarati, no satiyā’”ti?
‘seseorang mengingat dengan pikiran, bukan dengan perhatian’?”