mil3.1.4:6.1 Kemudian Anantakāya, sambil berjalan di samping Yang Mulia Nāgasena, berkata kepada Yang Mulia Nāgasena—
mil3.1.4:6.2 “Yang Mulia Nāgasena, apa yang Baginda sebut sebagai ‘Nāgasena’ ini—siapakah sebenarnya Nāgasena di sini?”
mil3.1.4:6.3 Sang Thera berkata—
mil3.1.4:6.4 “Menurutmu, siapakah ‘Nāgasena’ itu?”
mil3.1.4:6.5 “Yang Mulia, apa yang ada di dalam—angin kehidupan yang masuk dan keluar—itulah yang kusebut ‘Nāgasena.’”
mil3.1.4:6.6 “Jika angin ini keluar dan tidak masuk kembali, atau masuk dan tidak keluar lagi, apakah orang itu akan tetap hidup?”
mil3.1.4:6.7 “Tidak, Bhante.”
mil3.1.4:6.8 “Tetapi mereka yang meniup sangkakala, apakah udara itu masuk kembali kepada mereka?”
mil3.1.4:6.9 “Tidak, Bhante.”
mil3.1.4:6.10 “Dan mereka yang meniup seruling bambu, apakah udara itu masuk kembali kepada mereka?”
mil3.1.4:6.11 “Tidak, Bhante.”
mil3.1.4:6.12 “Dan mereka yang meniup tanduk, apakah udara itu masuk kembali kepada mereka?”
mil3.1.4:6.13 “Tidak, Bhante.”
mil3.1.4:6.14 “Lalu mengapa mereka tidak mati?”
mil3.1.4:6.15 “Saya tidak mampu berbicara dengan seorang pendebat seperti Yang Mulia. Baiklah, Bhante, sudilah menjelaskan maknanya.”
mil3.1.4:6.16 “Itu bukan jiwa; napas masuk dan keluar hanyalah bentukan-bentukan tubuh,” kata Thera, lalu membabarkan khotbah tentang Abhidhamma.
mil3.1.4:6.17 Kemudian Anantakāya menyatakan diri berlindung sebagai umat awam.