cnd6:25.1 Dan bagaimanakah, Sāriputta, seseorang disebut memiliki pikiran yang terbebaskan?
cnd6:25.2 Di sini, Sāriputta, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan tubuh pada tubuh, tekun, sadar penuh, dan waspada, setelah melenyapkan ketamakan dan kesedihan terhadap dunia.
cnd6:25.3 Ketika ia berdiam dengan merenungkan tubuh pada tubuh, pikirannya menjadi tidak melekat dan terbebaskan, tanpa kemelekatan, dari kekotoran batin.
cnd6:25.4 Demikian pula pada perasaan-perasaan …
cnd6:25.5 pada pikiran …
cnd6:25.6 ia berdiam dengan merenungkan fenomena-fenomena pada fenomena, tekun, sadar penuh, dan waspada, setelah melenyapkan ketamakan dan kesedihan terhadap dunia.
cnd6:25.7 Ketika ia berdiam dengan merenungkan fenomena-fenomena pada fenomena, pikirannya menjadi tidak melekat dan terbebaskan, tanpa kemelekatan, dari kekotoran batin.
cnd6:25.8 Demikianlah, Sāriputta, seorang bhikkhu disebut memiliki pikiran yang terbebaskan.
cnd6:25.9 Karena pikiran yang terbebaskan itulah, Sāriputta, Aku menyebutnya seorang manusia agung; karena pikiran yang tidak terbebaskan, Aku tidak menyebutnya manusia agung.”
cnd6:25.10 Itulah yang Kukatakan sebagai manusia agung.