So evaṁ pabbajito samāno pātimokkhasaṁvarasaṁvuto viharati ācāragocarasampanno, aṇumattesu vajjesu bhayadassāvī, samādāya sikkhati sikkhāpadesu, kāyakammavacīkammena samannāgato kusalena, parisuddhājīvo sīlasampanno, indriyesu guttadvāro, satisampajaññena samannāgato, santuṭṭho.
Setelah meninggalkan keduniawian demikian, ia berdiam dengan terkendali oleh Pātimokkha, sempurna dalam perilaku dan tempat menerima dana makanan, melihat bahaya dalam pelanggaran sekecil apa pun, berlatih dalam aturan-aturan latihan yang telah diterimanya, memiliki perbuatan baik melalui jasmani dan ucapan, penghidupan yang murni, sempurna dalam moralitas, menjaga pintu-pintu indria, memiliki perhatian dan kewaspadaan penuh, serta merasa puas.
Once they’ve gone forth, they live restrained in the monastic code, conducting themselves well and resorting for alms in suitable places. Seeing danger in the slightest fault, they keep the rules they’ve undertaken. They act skillfully by body and speech. They’re purified in livelihood and accomplished in ethical conduct. They guard the sense doors, have mindfulness and situational awareness, and are content.



