‹
DN 2

Sāmaññaphalasutta

Samaññaphala Sutta

Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

DN 2
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 2

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini adalah salah satu diskursus terpanjang dan terpenting dalam Digha Nikaya. Bacalah dengan perlahan, bayangkan Anda sedang duduk di pendopo bersama raja yang gelisah, dan ikuti alur penjelasan Buddha yang disusun secara sistematis dan mendalam tentang apa arti sebenarnya dari kehidupan pertapaan yang membuahkan hasil.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Raja Ajātasattu dari Magadha, di malam purnama yang indah, merasa gelisah dan ingin mencari ketenangan batin. Ia bertanya kepada para menterinya tentang petapa atau brahmana yang layak dikunjungi. Setelah mendengar usulan tentang enam guru terkenal, ia akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Buddha atas saran Jīvaka. Di hadapan Buddha, ia menceritakan kekecewaannya atas jawaban para guru lain tentang 'buah kehidupan pertapaan yang terlihat langsung', lalu Buddha menjelaskan berbagai tingkatan buah tersebut, mulai dari kebebasan seorang budak hingga pencapaian pengetahuan tertinggi yang mengakhiri kekotoran batin.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
dn2:102.1

Atha kho bhagavā acirapakkantassa rañño māgadhassa ajātasattussa vedehiputtassa bhikkhū āmantesi:

Kemudian, tidak lama setelah raja pergi, Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Soon after the king had left, the Buddha addressed the mendicants:

dn2:102.2

“khatāyaṁ, bhikkhave, rājā.

“Raja ini hancur, para bhikkhu.

“The king is broken, mendicants,

dn2:102.3

Upahatāyaṁ, bhikkhave, rājā.

Raja ini binasa, para bhikkhu.

he is ruined.

dn2:102.4

Sacāyaṁ, bhikkhave, rājā pitaraṁ dhammikaṁ dhammarājānaṁ jīvitā na voropessatha, imasmiññeva āsane virajaṁ vītamalaṁ dhammacakkhuṁ uppajjissathā”ti.

Jika, para bhikkhu, raja ini tidak merenggut nyawa ayahnya—seorang raja yang adil dan benar—maka di tempat duduknya inilah akan muncul mata Dhamma yang tanpa noda dan tanpa cela.”

If he had not taken the life of his father, a just and principled king, the stainless, immaculate vision of the Dhamma would have arisen in him in that very seat.”

dn2:102.5

Idamavoca bhagavā.

Demikianlah yang dikatakan oleh Bhagavā.

That is what the Buddha said.

dn2:102.6

Attamanā te bhikkhū bhagavato bhāsitaṁ abhinandunti.

Dengan gembira, para bhikkhu itu menyetujui apa yang dikatakan Bhagavā.

Satisfied, the mendicants approved what the Buddha said.

dn2:102.7

Sāmaññaphalasuttaṁ niṭṭhitaṁ dutiyaṁ.

Selesailah Sāmaññaphala Sutta, yang kedua.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.