dn27:8.1 Raja Pasenadi dari Kosala mengetahui, Vāseṭṭha, bahwa
dn27:8.2 'Pertapa Gotama telah meninggalkan keduniawian dari keluarga Sakya yang berdekatan.'
dn27:8.3 Dan sesungguhnya, Vāseṭṭha, orang-orang Sakya adalah pengikut setia Raja Pasenadi dari Kosala.
dn27:8.4 Orang-orang Sakya, Vāseṭṭha, menunjukkan penghormatan kepada Raja Pasenadi dari Kosala dengan membungkuk, berdiri untuk menghormat, memberi salam dengan tangan terkatup, dan melakukan tata krama yang layak baginya.
dn27:8.5 Demikianlah, Vāseṭṭha, apa yang dilakukan para Sakya kepada Raja Pasenadi dari Kosala berupa penghormatan, memberi salam, merangkapkan tangan, dan pelayanan yang layak, itu jugalah yang dilakukan Raja Pasenadi dari Kosala kepada Tathāgata berupa penghormatan, memberi salam, merangkapkan tangan, dan pelayanan yang layak. Namun ia tidak berpikir: ‘Pertapa Gotama terlahir baik, sedangkan aku terlahir buruk.
dn27:8.6 Ia kuat, sedangkan aku lemah.
dn27:8.7 Ia rupawan, sedangkan aku buruk rupa.
dn27:8.8 Ia sangat berpengaruh, sedangkan aku tidak berpengaruh.’
dn27:8.9 Akan tetapi, justru karena menghormati Dhamma, menjunjung Dhamma, memuliakan Dhamma, memuja Dhamma, dan menghargai Dhamma, maka Raja Pasenadi dari Kosala memberikan penghormatan, salam, merangkapkan tangan, dan pelayanan yang layak kepada Tathāgata.
dn27:8.10 Dengan cara inilah, Vāseṭṭha, dapat dipahami bahwa Dhamma adalah yang tertinggi di antara manusia, baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang.


