‹
DN 23

Pāyāsisutta

Khotbah kepada Pāyāsi

Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

DN 23
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 23

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini adalah sebuah dialog panjang yang penuh dengan perumpamaan. Mari kita simak bagaimana seorang petapa muda dengan sabar membongkar keyakinan seorang kepala suku yang keras kepala, dan apa yang terjadi setelahnya.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Kepala suku Pāyāsi, yang meyakini tidak ada kehidupan setelah kematian, berdebat dengan Yang Mulia Kumārakassapa. Melalui serangkaian perumpamaan, Kumārakassapa membantah pandangan nihilistik Pāyāsi dan menjelaskan bahwa alam lain dapat diketahui melalui pengembangan batin. Pāyāsi akhirnya berlindung dan berniat melakukan pengorbanan besar, namun karena memberi dengan tidak sungguh-sungguh, ia terlahir kembali di alam dewa yang lebih rendah, sementara asistennya Uttara yang memberi dengan tulus terlahir di alam yang lebih tinggi.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

dn23:21.0 2.10. Perumpamaan Petapa Berambut Gimbal Pemuja Api

dn23:21.1 “Kalau begitu, Tuan Muda, aku akan memberikan sebuah perumpamaan kepadamu.

dn23:21.2 Dengan perumpamaan, sebagian orang bijaksana dapat memahami makna dari apa yang dikatakan.

dn23:21.3 Pada suatu ketika, wahai pangeran, seorang pertapa berambut gimbal pemuja api menetap di sebuah gubuk daun di kawasan hutan belantara.

dn23:21.4 Kemudian, Pangeran, sebuah kafilah datang dari suatu negeri.

dn23:21.5 Kafilah itu bermalam satu malam tidak jauh dari pertapaan petapa berambut gimbal itu, lalu melanjutkan perjalanan.

dn23:21.6 Kemudian, Pangeran, petapa berambut gimbal itu berpikir:

dn23:21.7 ‘Bagaimana kalau aku mendatangi tempat perkemahan kafilah itu? Mudah-mudahan aku menemukan sesuatu yang berguna di sana.’

dn23:21.8 Maka pertapa berambut kusut yang memuja api itu pun bangun pagi-pagi dan mendatangi tempat perkemahan kafilah itu. Setibanya di sana, ia melihat seorang bayi laki-laki kecil yang masih polos, terbaring telentang, ditinggalkan di tempat itu.

dn23:21.9 Ketika ia melihat hal itu, ia berpikir,

dn23:21.10 ‘Tidaklah layak bagiku jika saat aku sedang melihat, seorang manusia meninggal dunia;

dn23:21.11 Bagaimana jika aku membawa anak ini ke pertapaan, merawatnya, menghidupinya, dan membesarkannya?’

dn23:21.12 Maka petapa berambut gimbal yang memuja api itu pun membawa anak tersebut ke pertapaannya, merawatnya, memeliharanya, dan membesarkannya.

dn23:21.13 Ketika anak itu berumur sekitar sepuluh atau dua belas tahun, muncullah suatu urusan yang perlu diselesaikan oleh petapa berambut gimbal itu di daerah pedesaan.

dn23:21.15 ‘Anakku, aku ingin pergi ke negeri sana;

dn23:21.18 Dan jika api itu padam, di sini ada kapak, kayu bakar, dan seperangkat kayu penggesek; nyalakanlah api itu dan rawatlah.’

dn23:21.19 Kemudian petapa berambut kusut yang memelihara api itu, setelah menasihati anak tersebut demikian, berangkat menuju ke daerah lain.

dn23:21.20 Namun anak itu, karena asyik bermain, apinya padam.

dn23:21.25 Jika apimu padam, maka dengan kapak ini, kayu-kayu ini, dan seperangkat alat pemantik api ini, nyalakanlah api itu lalu rawatlah.”’

dn23:21.26 ‘Mengapa aku tidak menyalakan api itu lalu merawatnya?’

dn23:21.27 Maka anak itu memotong-motong seperangkat alat pemantik api itu dengan kapak, berpikir:

dn23:21.30 Ia membelah alat pemantik api itu menjadi dua, tiga, empat, lima, sepuluh, hingga seratus bagian. Ia memotongnya menjadi serpihan-serpihan kecil, menumbuknya dalam lumpang, lalu menebarnya ke angin kencang, berpikir:

dn23:21.33 Kemudian petapa berambut kusut yang memelihara api itu, setelah menyelesaikan urusannya di daerah lain, kembali ke pertapaannya sendiri. Setibanya di sana, ia berkata kepada anak itu:

dn23:21.34 ‘Anakku, apakah apimu tidak padam?’

dn23:21.35 ‘Ayahku, ketika aku asyik bermain, apiku padam.

dn23:21.37 “Ayahku berkata kepadaku: Anakku, rawatlah api suci itu.

dn23:21.38 Jangan sampai apimu padam, anakku.”’

dn23:21.39 Dan jika apimu padam, kapak ini, kayu-kayu ini, dan perlengkapan gesek api ini—dengan menyalakan api dan merawatnya, engkau akan dapat menggunakannya.

dn23:21.40 Maka aku berpikir, ’Baiklah, aku akan menyalakan api dan merawatnya.’

dn23:21.41 Lalu, Saudaraku, aku menggosok kayu gesek dengan kapak,

dn23:21.42 berpikir, ’Semoga aku memperoleh api.’

dn23:21.44 Kayu penggosok api itu kubahagi dua, kubahagi tiga, kubahagi empat, kubahagi lima, kubahagi sepuluh, kubahagi seratus, kuperkecil menjadi serpihan-serpihan, setelah memperkecil menjadi serpihan-serpihan, kutumbuk dalam lumpang, setelah menumbuk dalam lumpang, kuhamburkan ke angin kencang:

dn23:21.45 "Mudah-mudahan aku memperoleh api," demikian pikirku.

dn23:21.47 Kemudian pertapa berambut kusut yang memuja api itu berpikir:

dn23:21.48 'Betapa bodohnya anak ini, betapa tidak cakapnya! Bagaimana mungkin ia mencari api dengan cara yang tidak masuk akal seperti itu?'

dn23:21.49 Sementara anak itu memperhatikannya, ia mengambil seikat kayu perapian, menyalakan api, dan berkata kepadanya:

dn23:21.50 ‘Begitulah, anakku, cara menyalakan api yang benar.

dn23:21.51 Bukan seperti caramu yang bodoh, tidak cakap, dan tidak masuk akal dalam mencari api.’

dn23:21.52 Demikian pula, tuan putri, engkau yang bodoh dan tidak cakap sedang mencari alam lain secara tidak masuk akal.

dn23:21.53 Lepaskanlah pandangan salah yang buruk ini, tuan putri; lepaskanlah pandangan salah yang buruk ini, tuan putri.

dn23:21.54 Janganlah hal itu menimbulkan kerugian dan penderitaan yang berkepanjangan bagimu!”

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.