dn23:21.0 2.10. Perumpamaan Petapa Berambut Gimbal Pemuja Api
dn23:21.1 “Kalau begitu, Tuan Muda, aku akan memberikan sebuah perumpamaan kepadamu.
dn23:21.2 Dengan perumpamaan, sebagian orang bijaksana dapat memahami makna dari apa yang dikatakan.
dn23:21.3 Pada suatu ketika, wahai pangeran, seorang pertapa berambut gimbal pemuja api menetap di sebuah gubuk daun di kawasan hutan belantara.
dn23:21.4 Kemudian, Pangeran, sebuah kafilah datang dari suatu negeri.
dn23:21.5 Kafilah itu bermalam satu malam tidak jauh dari pertapaan petapa berambut gimbal itu, lalu melanjutkan perjalanan.
dn23:21.6 Kemudian, Pangeran, petapa berambut gimbal itu berpikir:
dn23:21.7 ‘Bagaimana kalau aku mendatangi tempat perkemahan kafilah itu? Mudah-mudahan aku menemukan sesuatu yang berguna di sana.’
dn23:21.8 Maka pertapa berambut kusut yang memuja api itu pun bangun pagi-pagi dan mendatangi tempat perkemahan kafilah itu. Setibanya di sana, ia melihat seorang bayi laki-laki kecil yang masih polos, terbaring telentang, ditinggalkan di tempat itu.
dn23:21.9 Ketika ia melihat hal itu, ia berpikir,
dn23:21.10 ‘Tidaklah layak bagiku jika saat aku sedang melihat, seorang manusia meninggal dunia;
dn23:21.11 Bagaimana jika aku membawa anak ini ke pertapaan, merawatnya, menghidupinya, dan membesarkannya?’
dn23:21.12 Maka petapa berambut gimbal yang memuja api itu pun membawa anak tersebut ke pertapaannya, merawatnya, memeliharanya, dan membesarkannya.
dn23:21.13 Ketika anak itu berumur sekitar sepuluh atau dua belas tahun, muncullah suatu urusan yang perlu diselesaikan oleh petapa berambut gimbal itu di daerah pedesaan.
dn23:21.14 Maka ia berkata kepada anak itu,
dn23:21.15 ‘Anakku, aku ingin pergi ke negeri sana;
dn23:21.16 rawatlah api suci itu, anakku.
dn23:21.17 Jangan biarkan api itu padam.
dn23:21.18 Dan jika api itu padam, di sini ada kapak, kayu bakar, dan seperangkat kayu penggesek; nyalakanlah api itu dan rawatlah.’
dn23:21.19 Kemudian petapa berambut kusut yang memelihara api itu, setelah menasihati anak tersebut demikian, berangkat menuju ke daerah lain.
dn23:21.20 Namun anak itu, karena asyik bermain, apinya padam.
dn23:21.21 Lalu anak itu berpikir:
dn23:21.22 ‘Ayahku berkata kepadaku demikian:
dn23:21.23 “Anakku, rawatlah api suci itu.
dn23:21.24 Jangan sampai apimu padam.
dn23:21.25 Jika apimu padam, maka dengan kapak ini, kayu-kayu ini, dan seperangkat alat pemantik api ini, nyalakanlah api itu lalu rawatlah.”’
dn23:21.26 ‘Mengapa aku tidak menyalakan api itu lalu merawatnya?’
dn23:21.27 Maka anak itu memotong-motong seperangkat alat pemantik api itu dengan kapak, berpikir:
dn23:21.28 ‘Semoga aku mendapatkan api!’
dn23:21.29 Namun ia tetap tidak mendapatkan api.
dn23:21.30 Ia membelah alat pemantik api itu menjadi dua, tiga, empat, lima, sepuluh, hingga seratus bagian. Ia memotongnya menjadi serpihan-serpihan kecil, menumbuknya dalam lumpang, lalu menebarnya ke angin kencang, berpikir:
dn23:21.31 ‘Semoga aku mendapatkan api!’
dn23:21.32 Namun ia tetap tidak mendapatkan api.
dn23:21.33 Kemudian petapa berambut kusut yang memelihara api itu, setelah menyelesaikan urusannya di daerah lain, kembali ke pertapaannya sendiri. Setibanya di sana, ia berkata kepada anak itu:
dn23:21.34 ‘Anakku, apakah apimu tidak padam?’
dn23:21.35 ‘Ayahku, ketika aku asyik bermain, apiku padam.
dn23:21.36 Lalu aku berpikir:
dn23:21.37 “Ayahku berkata kepadaku: Anakku, rawatlah api suci itu.
dn23:21.38 Jangan sampai apimu padam, anakku.”’
dn23:21.39 Dan jika apimu padam, kapak ini, kayu-kayu ini, dan perlengkapan gesek api ini—dengan menyalakan api dan merawatnya, engkau akan dapat menggunakannya.
dn23:21.40 Maka aku berpikir, ’Baiklah, aku akan menyalakan api dan merawatnya.’
dn23:21.41 Lalu, Saudaraku, aku menggosok kayu gesek dengan kapak,
dn23:21.42 berpikir, ’Semoga aku memperoleh api.’
dn23:21.43 Namun aku tidak memperoleh api.
dn23:21.44 Kayu penggosok api itu kubahagi dua, kubahagi tiga, kubahagi empat, kubahagi lima, kubahagi sepuluh, kubahagi seratus, kuperkecil menjadi serpihan-serpihan, setelah memperkecil menjadi serpihan-serpihan, kutumbuk dalam lumpang, setelah menumbuk dalam lumpang, kuhamburkan ke angin kencang:
dn23:21.45 "Mudah-mudahan aku memperoleh api," demikian pikirku.
dn23:21.46 Namun aku tidak memperoleh api.
dn23:21.47 Kemudian pertapa berambut kusut yang memuja api itu berpikir:
dn23:21.48 'Betapa bodohnya anak ini, betapa tidak cakapnya! Bagaimana mungkin ia mencari api dengan cara yang tidak masuk akal seperti itu?'
dn23:21.49 Sementara anak itu memperhatikannya, ia mengambil seikat kayu perapian, menyalakan api, dan berkata kepadanya:
dn23:21.50 ‘Begitulah, anakku, cara menyalakan api yang benar.
dn23:21.51 Bukan seperti caramu yang bodoh, tidak cakap, dan tidak masuk akal dalam mencari api.’
dn23:21.52 Demikian pula, tuan putri, engkau yang bodoh dan tidak cakap sedang mencari alam lain secara tidak masuk akal.
dn23:21.53 Lepaskanlah pandangan salah yang buruk ini, tuan putri; lepaskanlah pandangan salah yang buruk ini, tuan putri.
dn23:21.54 Janganlah hal itu menimbulkan kerugian dan penderitaan yang berkepanjangan bagimu!”

