‹
DN 19

Mahāgovindasutta

Mahāgovindasutta

Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

DN 19
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 19

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini diawali dengan suasana surgawi yang penuh kegembiraan, lalu berubah menjadi sebuah kisah masa lampau yang epik. Mari kita simak bagaimana sebuah kisah tentang seorang penasihat agung pada zaman dahulu menjadi landasan untuk memahami keunikan ajaran Buddha.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Pañcasikha, seorang gandhabba, menceritakan kepada Buddha tentang pertemuan para dewa Tāvatiṁsa di Balai Sudhammā. Dalam pertemuan itu, Sakka memuji Buddha dengan delapan pujian sejati, dan Brahmā Sanaṅkumāra muncul untuk membenarkan pujian tersebut. Sanaṅkumāra kemudian menceritakan kisah kehidupan lampau Buddha sebagai brahmana Mahāgovinda, seorang penasihat agung yang meninggalkan keduniawian setelah menerima petunjuk dari Brahmā. Buddha mengakhiri kisah dengan menjelaskan bahwa jalan yang diajarkan-Nya saat ini, Jalan Mulia Berunsur Delapan, melampaui tujuan kelahiran di alam Brahmā dan menuntun menuju Nibbāna.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
dn19:10.1

Laddhasahāyo kho pana so bhagavā sekhānañceva paṭipannānaṁ khīṇāsavānañca vusitavataṁ.

Juga, Sang Bhagavā telah memperoleh para sahabat, baik para siswa yang masih berlatih maupun para siswa yang telah melenyapkan kekotoran batin dan telah menyelesaikan perjalanan spiritual.

Also, the Buddha has gained companions, both trainees who are practicing, and those with defilements ended who have completed their journey.

dn19:10.2

Te bhagavā apanujja ekārāmataṁ anuyutto viharati.

Sang Bhagavā tidak mengusir mereka, melainkan berdiam dengan tekun dalam kegembiraan kesendirian.

The Buddha is committed to the joy of solitude, but doesn’t send them away.

dn19:10.3

Evaṁ ekārāmataṁ anuyuttaṁ imināpaṅgena samannāgataṁ satthāraṁ neva atītaṁse samanupassāma, na panetarahi, aññatra tena bhagavatā.

Kami tidak melihat guru mana pun, baik di masa lampau maupun masa kini, yang begitu tekun dalam kegembiraan kesendirian, selain dari Sang Bhagavā itu.

I don’t see any Teacher, past or present, so committed to the joy of solitude, apart from the Buddha.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.