3. Nacodanārahasatthu
3. Seorang Guru yang Tidak Layak Ditegur
3. A Teacher Who Does Not Deserve to Be Reprimanded
Khotbah kepada Lohicca
Dalam sutta ini, kita akan menyaksikan bagaimana Buddha dengan bijak meluruskan pandangan keliru seorang brahmana terpelajar. Mari kita simak dialog yang penuh perumpamaan ini dan renungkan maknanya bagi praktik kita sendiri.
Brahmana Lohicca memiliki pandangan salah bahwa seorang petapa atau brahmana yang mencapai kualitas baik tidak perlu mengajarkannya kepada orang lain. Buddha menggunakan perumpamaan tentang raja dan pendapatan kerajaan untuk menunjukkan bahwa pandangan ini justru merugikan banyak orang. Beliau lalu memaparkan tiga jenis guru yang layak ditegur dan satu guru yang tidak layak ditegur, yaitu Tathāgata yang mengajarkan Dhamma hingga siswanya mencapai pencerahan. Lohicca akhirnya menyadari kesalahannya dan berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.
3. Nacodanārahasatthu
3. Seorang Guru yang Tidak Layak Ditegur
3. A Teacher Who Does Not Deserve to Be Reprimanded
Evaṁ vutte, lohicco brāhmaṇo bhagavantaṁ etadavoca:
Setelah beliau berkata demikian, brahmana Lohicca berkata kepada Sang Bhagavā:
When he had spoken, Lohicca said to the Buddha,
“atthi pana, bho gotama, koci satthā, yo loke nacodanāraho”ti?
"Tetapi, Guru Gotama, adakah seorang guru di dunia ini yang tidak layak ditegur?"
“But worthy Gotama, is there a teacher in the world who does not deserve to be reprimanded?”
“Atthi kho, lohicca, satthā, yo loke nacodanāraho”ti.
"Ada, Lohicca, seorang guru di dunia ini yang tidak layak ditegur."
“There is, Lohicca.”
“Katamo pana so, bho gotama, satthā, yo loke nacodanāraho”ti?
"Tetapi siapakah, Guru Gotama, guru yang tidak layak ditegur itu?"
“But who is that teacher?”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.