Iti kira, lohicca, yo evaṁ vadeyya:
Demikianlah, Lohicca, seandainya seseorang berkata demikian tentang Lohicca atau tentang Raja Pasenadi:
So it seems, Lohicca, that should someone say such a thing either of Lohicca or of King Pasenadi,
Khotbah kepada Lohicca
Dalam sutta ini, kita akan menyaksikan bagaimana Buddha dengan bijak meluruskan pandangan keliru seorang brahmana terpelajar. Mari kita simak dialog yang penuh perumpamaan ini dan renungkan maknanya bagi praktik kita sendiri.
Brahmana Lohicca memiliki pandangan salah bahwa seorang petapa atau brahmana yang mencapai kualitas baik tidak perlu mengajarkannya kepada orang lain. Buddha menggunakan perumpamaan tentang raja dan pendapatan kerajaan untuk menunjukkan bahwa pandangan ini justru merugikan banyak orang. Beliau lalu memaparkan tiga jenis guru yang layak ditegur dan satu guru yang tidak layak ditegur, yaitu Tathāgata yang mengajarkan Dhamma hingga siswanya mencapai pencerahan. Lohicca akhirnya menyadari kesalahannya dan berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.
Iti kira, lohicca, yo evaṁ vadeyya:
Demikianlah, Lohicca, seandainya seseorang berkata demikian tentang Lohicca atau tentang Raja Pasenadi:
So it seems, Lohicca, that should someone say such a thing either of Lohicca or of King Pasenadi,
‘lohicco brāhmaṇo sālavatikaṁ ajjhāvasati;
‘Brahmana Lohicca berdiam di Sālavatikā;
yā sālavatikāya samudayasañjāti, lohiccova taṁ brāhmaṇo ekako paribhuñjeyya, na aññesaṁ dadeyyā’ti.
apa pun hasil panen yang tumbuh di Sālavatikā, biarlah Brahmana Lohicca sendiri yang menikmatinya seorang diri, tidak memberikannya kepada orang lain.’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.