an8.64:5.1 So kho ahaṁ, bhikkhave, aparena samayena appamatto ātāpī pahitatto viharanto obhāsañceva sañjānāmi, rūpāni ca passāmi, tāhi ca devatāhi saddhiṁ santiṭṭhāmi sallapāmi sākacchaṁ samāpajjāmi;
Khotbah di Puncak Gayā
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana pencapaian spiritual tertinggi pun dibangun melalui proses latihan yang bertahap dan menyeluruh. Simaklah bagaimana Sang Buddha menggambarkan usaha-Nya untuk memurnikan penglihatan batin hingga tuntas.
Dalam khotbah ini, Sang Buddha menceritakan proses pencerahan-Nya secara bertahap. Sebelum mencapai pencerahan sempurna, Beliau melatih diri untuk tidak hanya menyadari cahaya dan melihat bentuk, tetapi juga untuk berinteraksi dengan para dewa, mengetahui asal-usul mereka, akibat perbuatan yang membawa mereka terlahir di alam tersebut, hingga akhirnya pengetahuan dan penglihatan-Nya menjadi murni sepenuhnya dalam delapan putaran. Pencapaian inilah yang menjadi dasar pengakuan-Nya atas pencerahan sempurna di dunia ini.
an8.64:5.1 So kho ahaṁ, bhikkhave, aparena samayena appamatto ātāpī pahitatto viharanto obhāsañceva sañjānāmi, rūpāni ca passāmi, tāhi ca devatāhi saddhiṁ santiṭṭhāmi sallapāmi sākacchaṁ samāpajjāmi;
an8.64:5.2 no ca kho tā devatā jānāmi—
an8.64:5.3 imā devatā amukamhā vā amukamhā vā devanikāyāti.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.