Uṭṭhāhikā analasā,
Ia bangun pagi, tidak malas,
She gets up early, works tirelessly,
Khotbah Kedua kepada Visākhā tentang Para Dewa yang Menyenangkan
Sutta ini menggambarkan cita-cita peran perempuan dalam konteks rumah tangga pada masa Buddha, dengan penekanan pada kebajikan, kesetiaan, dan kedermawanan sebagai jalan menuju kelahiran yang baik.
Dalam khotbah kedua kepada Visākhā, Ibu Migāra, Sang Buddha menjelaskan delapan kualitas yang membuat seorang perempuan terlahir kembali di alam para Dewa yang Menyenangkan (Manāpakāyikā devā). Kualitas-kualitas tersebut mencakup sikap berbakti kepada suami, kedermawanan, serta perilaku yang baik dan bijaksana dalam kehidupan rumah tangga.
Uṭṭhāhikā analasā,
Ia bangun pagi, tidak malas,
She gets up early, works tirelessly,
saṅgahitaparijjanā;
dan mengurus para pembantu rumah tangga;
and manages the domestic help.
Bhattu manāpaṁ carati,
Ia menyenangkan hati suaminya,
She’s agreeable to her husband,
sambhataṁ anurakkhati.
dan menjaga harta yang telah dikumpulkan.
and preserves his wealth.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.