Cāgavatī kho pana hoti.
Ia juga dermawan.
She’s generous.
Khotbah Kedua kepada Visākhā tentang Para Dewa yang Menyenangkan
Sutta ini menggambarkan cita-cita peran perempuan dalam konteks rumah tangga pada masa Buddha, dengan penekanan pada kebajikan, kesetiaan, dan kedermawanan sebagai jalan menuju kelahiran yang baik.
Dalam khotbah kedua kepada Visākhā, Ibu Migāra, Sang Buddha menjelaskan delapan kualitas yang membuat seorang perempuan terlahir kembali di alam para Dewa yang Menyenangkan (Manāpakāyikā devā). Kualitas-kualitas tersebut mencakup sikap berbakti kepada suami, kedermawanan, serta perilaku yang baik dan bijaksana dalam kehidupan rumah tangga.
Cāgavatī kho pana hoti.
Ia juga dermawan.
She’s generous.
Vigatamalamaccherena cetasā agāraṁ ajjhāvasati muttacāgā payatapāṇinī vossaggaratā yācayogā dānasaṁvibhāgaratā.
Ia berdiam di rumah dengan pikiran yang bebas dari noda kekikiran, dermawan dengan bebas, berhati terbuka, senang melepaskan, berkomitmen pada kedermawanan, senang memberi dan berbagi.
She lives at home with heart rid of the stain of stinginess, freely generous, open-handed, loving to let go, committed to charity, loving to give and to share.
Imehi kho, visākhe, aṭṭhahi dhammehi samannāgato mātugāmo kāyassa bhedā paraṁ maraṇā manāpakāyikānaṁ devānaṁ sahabyataṁ upapajjatīti.
Ketika mereka memiliki delapan kualitas ini, Visākhā—setelah kematian, saat hancurnya jasmani—terlahir kembali bersama para Dewa dari Kelompok yang Menyenangkan.”
When they possess these eight qualities ladies—when their body breaks up, after death—are reborn in company with the Gods of the Agreeable Host.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.