‹
AN 8.11

Verañjasutta

Khotbah di Verañjā

Aṅguttara Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA AN 8.11

Kenali dunia dalam sutta ini

Dalam sutta ini, kita akan menyaksikan dialog antara Sang Buddha dan seorang brahmana yang menguji Beliau dengan tuduhan-tuduhan. Perhatikan bagaimana Sang Buddha membalikkan setiap tuduhan dengan makna yang lebih dalam, dan bagaimana perumpamaan anak ayam menjadi kunci untuk memahami pencapaian-Nya.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Brahmana Verañja menuduh Buddha tidak menghormati para brahmana tua dan tidak memiliki berbagai kualitas baik. Buddha menjawab dengan menjelaskan bahwa tuduhan-tuduhan itu benar dalam arti yang berbeda: ia telah melampaui kenikmatan indria, mengajarkan ketidakberlakuan atas kejahatan, pemusnahan nafsu, dan seterusnya. Melalui perumpamaan anak ayam yang menetas, Buddha menunjukkan bahwa ia telah memecahkan cangkang ketidaktahuan dan mencapai pencerahan sempurna, sehingga ia layak disebut yang tertua di dunia. Brahmana itu akhirnya berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

an8.11:16.1 When my mind had immersed in samādhi like this—purified, bright, flawless, rid of corruptions, pliable, workable, steady, and imperturbable—I extended it toward knowledge of the death and rebirth of sentient beings.

an8.11:16.2 With clairvoyance that is purified and superhuman, I saw sentient beings passing away and being reborn—inferior and superior, beautiful and ugly, in a good place or a bad place. I understood how sentient beings pass on according to their deeds: ‘These dear beings did bad things by way of body, speech, and mind. They denounced the noble ones; they had wrong view; and they chose to act out of that wrong view. When their body broke up, after death, they were reborn in a place of loss, a bad place, the underworld, hell. These dear beings, however, did good things by way of body, speech, and mind. They never denounced the noble ones; they had right view; and they chose to act out of that right view. When their body broke up, after death, they were reborn in a good place, a heavenly realm.’ And so, with clairvoyance that is purified and superhuman, I saw sentient beings passing away and being reborn—inferior and superior, beautiful and ugly, in a good place or a bad place. I understood how sentient beings pass on according to their deeds.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.