an7.16:3.1 Kemudian, para bhikkhu, seseorang berdiam dengan mengamati ketidak-kekalan dalam segala fenomena terkondisi, memiliki persepsi ketidak-kekalan, mengalami ketidak-kekalan, senantiasa, terus-menerus, tanpa henti, dengan pikiran yang bertekad dan menembusnya dengan kebijaksanaan.
an7.16:3.2 Dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang terbebaskan di antara kehidupan-kehidupan. …
an7.16:3.3 Dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang terbebaskan saat mendarat. …
an7.16:3.4 Dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang terbebaskan tanpa usaha tambahan. …
an7.16:3.5 Dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang terbebaskan dengan usaha tambahan. …
an7.16:3.6 Dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang mengalir ke atas, menuju alam Akaniṭṭha.
an7.16:3.7 Ini, para bhikkhu, adalah individu ketujuh yang layak menerima persembahan yang dipersembahkan kepada para dewa, layak menerima keramahan, layak menerima dana keagamaan, layak menerima penghormatan dengan tangan bersikap añjali, dan merupakan ladang jasa yang tiada taranya bagi dunia.
an7.16:3.8 Ini, para bhikkhu, adalah tujuh individu yang layak menerima persembahan yang dipersembahkan kepada para dewa, layak menerima keramahan, layak menerima dana keagamaan, layak menerima penghormatan dengan tangan bersikap añjali, dan merupakan ladang jasa yang tiada taranya bagi dunia.”
an7.16:3.9 Ke enam.
