an6.7:2.1 Evamevaṁ kho, bhikkhave, chahi dhammehi samannāgato bhikkhu āhuneyyo hoti …pe… anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassa.
Kuda Murni (Ke-3)
Sutta ini menggunakan perumpamaan yang indah tentang kuda jantan murni untuk menggambarkan kualitas seorang bhikkhu. Mari kita renungkan bagaimana ketahanan terhadap rangsangan indria menjadi tolok ukur kelayakan menerima persembahan.
Dalam sutta ini, Sang Buddha menyampaikan perumpamaan tentang seekor kuda jantan murni milik raja yang memiliki enam faktor, yaitu mampu menahan bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, dan memiliki kecepatan. Demikian pula, seorang bhikkhu yang memiliki enam kualitas—mampu menahan bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan, dan fenomena batin—adalah layak menerima persembahan, layak menerima keramahan, layak menerima dana keagamaan, layak menerima penghormatan, dan merupakan ladang jasa yang tiada taranya bagi dunia.
an6.7:2.1 Evamevaṁ kho, bhikkhave, chahi dhammehi samannāgato bhikkhu āhuneyyo hoti …pe… anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassa.
an6.7:2.2 Katamehi chahi?
an6.7:2.3 Idha, bhikkhave, bhikkhu khamo hoti rūpānaṁ …pe… khamo dhammānaṁ.
an6.7:2.4 Imehi kho, bhikkhave, chahi dhammehi samannāgato bhikkhu āhuneyyo hoti …pe… anuttaraṁ puññakkhettaṁ lokassā”ti.
an6.7:2.5 Sattamaṁ.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.